Showing posts with label Media Pertamina. Show all posts
Showing posts with label Media Pertamina. Show all posts

Pertamina dan PGN Bangun LNG Receiving Terminal

4.25.2010 2 comments

"Ini merupakan terobosan baru yang bersejarah yaitu joint venture company Floating Storage and Regasification Terminal (FSRT) gas alam cair (LNG) antara PT Pertamina (Persero) dengan PT Perusahaan Gas Negara, Tbk yang menghasilkan sebuah perusahaan baru PT Nusantara Regas," ujar Menteri BUMN Mustafa Abubakar sesaat setelah menyaksikan penandatanganan Akta Pendirian perusahaan tersebut, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (14/4).

Penandatanganan Akta pendirian tersebut dilakukan oleh pemegang saham masing-masing perusahaan, yaitu Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina Ferederick ST Siahaan dan Direktur Pengembangan PGN Bambang Banyudoyo.

"Mengapa ini dikatakan sejarah baru karena joint antara Pertamina dan PGN adalah yang pertama kalinya dilakukan dan melahirkan satu perusahaan yang memungkinkan terjadinya diversifikasi suplai gas di Indonesia," kata Abubakar.

Menurut Abubakar, receiving LNG dirancang tiga tempat, yaitu di Jawa Barat/DKI Jakarta, Medan, dan Jawa Timur. Ada permintaan dari pemerintah agar Pertamina segera menyelesaikan FS (floating storage) di Jawa Timur, sedangkan yang di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Medan kelihatannya lancar dan Jawa Timur segera dirampungkan.

Menteri BUMN Mustafa Abubakar menjelaskan dengan adanya receiving terminal ini nanti, terdapat sebuah kapal besar yang statis dan dilengkapi dengan perlengkapan-perlengkapan untuk pengolahan atau regasifikasi gas cair diubah menjadi gas biasa. Dari kapal receiving terminal bisa memompa gas menuju pipa-pipa distribusi yang jangkauannya hingga 500-600 km. Dengan demikian gas yang di darat itu akan tersuplai dalam bentuk gas biasa kepada para pelanggan.

"Jadi adanya receiving terminal ini, untuk pengangkutan gas LNG yang selama ini kita kenal melalui pipa bawah laut. Dengan adanya penerimaan atau terminal penerima dimungkinkan sekarang lewat non pipa bawah laut, tapi diangkut melalui transportasi laut biasa dengan menggunakan kapal angkut LNG tersebut. Dengan demikian inilah yang dinamai sejarah, yang sebelumnya tidak ada. Melalui PT Nusantara Regas, hal itu menjadi ada," paparnya.

"Kita sangat berbahagia, apalagi sekarang ini Indonesia mengalami "kesulitan gas". Terobosan seperti ini sangat tinggi kontribusinya bagi perkembangan, pengadaan, dan jaminan suplai distribusi gas nasional kita," tandasnya.


Perjanjian Akta Pendiri
Dengan ditandatanganinya akta pendiri ini, maka Pertamina dan PGN telah membentuk perusahaan patungan dengan kepemilikan saham masing-masing yaitu Pertamina sebesar 60 persen dan PGN sebesar 40 persen, dengan struktur permodalan yaitu modal dasar sebesar Rp 2 triliun dan modal setor sebesar Rp 500 miliar.

Pemanfaatan LNG tersebut nantinya akan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gas domestik khususnya bagi pembangkit listrik milik PLN. Pasokan gas untuk kebutuhan fasilitas tersebut antara lain diharapkan berasal dari sumber gas di Kalimantan Timur dengan total volume sebesar 11,75 juta ton semala 11 tahun.

Adapun susunan dari pengurus PT Nusantara Regas adalah sebagai berikut, Direktur Utama Djohardi Angga Kusumah, Direktur Teknik dan Operasi Ariadji, Direktur Keuangan dan Administrasi Sutikno, Komisaris Utama Karen Agustiawan, dan Komisaris M. Baskoro PN.

Dengan berdirinya badan perusahaan patungan untuk LNG receiving terminal ini diharapkan proses kontribusi fasilitas terbut dapat dimulai di tahun 2010 ini. Ke depan Pertamina dan PGN berharap dapat terus berperan dalam peningkatan penggunaan gas bumi, sebagai sumber energi yang lebih efisien, bersih, dan ramah lingkungan dalam rangka mendukung program pemerintah untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.MPNDJ Read the full story

Pertamina : Perubahan SDM

Proses perubahan sumber daya manusia (SDM) Pertamina tak berhenti. Setelah ke-SDM-an dikelola direktorat sendiri, sejak 19 Februari 2010, persoalan ke-SDM-an akan semakin ditangani secara komprehensif dan terintegrasi dengan objektif terbentuknya SDM dengan segala kesistemannya yang berkelas dunia pada tahun 2013 sesuai best practice pengelolaan SDM perusahaan kelas dunia, dengan bumbu penyesuaian yang pas dengan kebutuhan Pertamina.

Pekerjaan yang tidak ringan. Paling tidak, Direktorat SDM harus merombak banyak hal dalam waktu cepat, karena tuntutan bisnis Pertamina yang menggelinding cepat sesuai kondisi persaingan di bisnis migas di tingkat nasional, regional, dan global. Pekerjaan besar Pertamina, tak hanya perlu sistem yang pas, tapi juga aspek manusianya yang menjadi pelaksana dan pendukung sistem baru Pertamina.

Hal yang dipahami, Direktorat SDM sedang berusaha mempercepat proses rutin seperti pembinaan, mutasi, dan penetapan tugas seorang pekerja di tempat baru. Juga memperbaiki reward and consequences yang seharusnya semakin objektif dan berkeadilan, serta mendukung semangat Pertamina menjadi perusahaan kelas dunia. Tetapi di lain sisi, Direktorat SDM juga mesti memotong tuntas beberapa entry barrier persoalan yang seakan-akan menjadi klasik karena mentradisi dan terbiarkan tanpa solusi tepat dan produktif.

Salah satu contoh kondisi yang tidak sesuai itu adalah adanya gap rasio antara jumlah pekerja yang qualified dengan kotak yang memerlukannya, sementara di sisi lain banyak pekerja yang dalam konteks Pertamina kelas dunia tak qualified sehingga non job.

Kondisi ini adalah warisan masa lalu, di mana Pertamina merekrut pekerja belum mengasumsikan tuntutan proses bisnis dan operasional Pertamina kelas dunia. Persoalan semacam ini harus dipotong pintas agar ke depan, terdapat kesesuaian kualifikasi pekerja yang diperlukan dengan pekerja yang tersedia dan kotak fungsi yang ada.

Ke depan, untuk mengisi posisi kunci pun seseorang tak bisa asal ditempatkan. Tidak bisa ujug-ujug tanpa modal kualifikasi dan justifikasi profesional yang benar-benar diperlukan oleh jabatan tersebut. Perusahaan perlu dikelola oleh orang-orang yang tepat, dari mulai pimpinan tertinggi hingga pekerja operasional. Direktorat SDM yang menggelar sejumlah program terobosan melalui motornya di HR Transformation mengakomodasi puluhan inisiatif program. Contoh program career pathing dan succession planning, agar persoalan karier seseorang pekerja dan posisi yang akan ditempati benar-benar tepat, pas buat yang bersangkutan dan menguntungkan buat perusahaan.

Begitu banyak sisi-sisi ke-SDM-an yang harus disesuaikan dengan tuntutan proses bisnis dan operasional Pertamina kelas dunia. Tahun 2010 ini HR Transformation sedang mengawal 16 program yang berdampak terobosan dan solusi. Tahun 2008 sebelumnya 14 program, dan pada 2009 dilaksanakan 12 program. Adanya Direktorat SDM mengisyaratkan perubahan ke-SDM-an tak bisa dianggap sampingan, dan proses perubahan tersebut belum selesai, karena strukturisasi organisasi Direktorat SDM saja misalnya masih terus digodok untuk bisa selesai tahun 2010 ini.M Read the full story

TUGU Mengoptimalkan Seluruh Resources untuk Revitalisasi Pasar

4.15.2010 0 comments

Jakarta, Monday, April 12 2010 (09:05) Direktur Pemasaran PT Tugu Pratama Indonesia Mohammad Jusuf AdiPengantar Redaksi:
Sebagai anak perusahaan dari PT Pertamina (Persero), PT Tugu Pratama Indonesia (TUGU) yang telah mengarungi arus kompetisi di industri Asuransi Umum selama lebih dari 28 tahun, kian bergairah untuk menyuburkan semangat "Continuous Improvement" guna merealisasikan visi menjadi perusahaan berkelas dunia (world class). Berikut penuturan Direktur Pemasaran TUGU Mohammad Jusuf Adi, kepada Media Pertamina dalam acara Workshop Drilling Oil & Gas Insurance, Bandung, Kamis (11/3).

Seperti apa kebijakan yang diterapkan TUGU selaku Anak Perusahaan dari Pertamina? Sekitar 60 persen pemasukan TUGU berasal dari portfolio Migas, sedangkan 40% lainnya dari pangsa Non Migas. Sehingga jika berbicara tentang kebijakan dapat dilihat dari berbagai sisi, namun tentunya resources yang ada di TUGU difokuskan ke account-account corporate besar yang berada di dalam lingkup Migas dan Non Migas. Untuk itu setiap resources dipastikan mempunyai kompetensi dan pengetahuan yang tinggi terhadap seluruh bisnis asuransi.

Jadi jika berbicara tentang kebijakan secara korporat TUGU tentunya berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan terbaik bagi PT Pertamina (Persero) selaku our majority shareholder sekalipun most valued client.


Apakah ada kendala dalam pelaksanaan kebijakan tersebut? Kendala itu pasti ada. Dari sisi eksternal tentunya semakin banyak perusahaan di industri mengejar posisi TUGU sebagai pemain papan atas asuransi (khususnya di bidang migas). Dan sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku, mulai beberapa tahun terakhir ini TUGU juga wajib mengikuti seluruh proses Tender pengadaan barang ataupun jasa bersama - sama para kandidat / peserta tender lainnya bila ingin bekerja sama dengan Pertamina ataupun BP Migas/PSC's, tidak ada privilege walaupun kami adalah anak perusahaan BUMN, dan sesungguhnya kami juga sudah tidak memiliki pangsa pasar yang bersifat captive, sehingga semua bisnis kami dapatkan melalui kerja keras "teamwork" yang berjalan pada koridor Code of Corporate Governance yang telah ditetapkan.

Oleh karena itu TUGU mempunyai strategi jangka panjang untuk lebih meningkatkan stabilitas performa kinerja ataupun profitabilitas, agar tetap menjadi top survival di era persaingan global ini, adapun strategi yang dimaksud adalah dengan konsisten melakukan "Optimalisasi Sumber Daya dan Revitalisasi Pasar". Seluruh resources yang kami miliki merupakan modal kekuatan juang sesungguhnya, seperti SDM, inovasi IT, kekuatan finansial dan kemampuan networking apabila diintegrasikan secara maksimal maka akan sangat mempengaruhi percepatan tercapainya portfolio balancing antara pendapatan premi di sektor Migas dan Non Migas.

Di sisi lain, dengan konsistensi keberadaan Tugu Insurance Company (Tugu Hongkong) hingga saat ini semakin menjadi sumber informasi terbaik kami untuk area di luar Asia Tenggara.


Berarti dengan keberadaan kepemilikan saham TUGU pada Tugu Hongkong apakah TUGU sudah bisa dikatakan world class ? Jika mau dikatakan world class, TUGU perlahan sudah mulai menjadi world class, karena sejak tahun 2009 kami sudah menjadi salah satu panel captive internasional. TUGU berhasil menjadi satu - satunya perusahaan asuransi kerugian milik Indonesia yang mendapatkan kepercayaan ikut serta mendukung program asuransi energi TOTAL E&P NORGE (France).

Perusahaan migas internasional seperti Total, Chevron, dan Shell proses bisnis mereka mempunyai captive masing-masing. Captive ini tentunya mempunyai program asuransi dan reasuransi untuk melindungi kepentingan the parent company. TUGU sebagai bagian dari program captive ini mendukung program parent-nya. Jadi secara tidak langsung, TUGU juga memberi dukungan perlindungan resiko kepada aktivitas usaha mereka.


Jadi persiapan strategi jangka panjang tersebut dipersiapkan juga untuk menghindari kendala-kendala dalam penerapan kebijakan? Iya betul, strategi jangka panjang itu tentunya juga harus fokus terhadap seluruh aspek eksternal TUGU karena umumnya mereka melakukan perubahan dalam artian kebijakan bisnis dapat berubah dan kebijakan pemerintah pun selalu berubah. Maka kompetensi TUGU harus semakin tinggi karena TUGU dituntut tidak saja untuk berkompetisi dengan pemain domestik tapi juga harus mampu untuk melakukan kompetisi dengan pihak asing dari luar.

Oleh karena itu strategi jangka panjangnya adalah mencoba untuk menempatkan posisi TUGU sebagai pemain internasional juga. Artinya suatu saat nanti TUGU bisa menerbitkan polis untuk aset yang berada di China, Vietnam, Myanmar, dan sebagainya. Jadi jika orang lain bisa melakukan penetrasi ke Indonesia, mengapa perusahaan domestik tidak bisa melakukan penetrasi ke luar. Sehingga seluruh resources yang ada di TUGU nantinya juga memiliki fokus ke arah sana, mengingat adanya ACFTA dan AFTA.


Targetnya kapan? Untuk target tentunya kami melakukan persiapan intensif lebih dahulu. Salah satu persiapan adalah Tugu Hongkong tahun ini semaksimal mungkin bisa mendapatkan predikat AM Best "A -"dari sisi rating. Ketika nanti Tugu Hongkong mendapatkan rating AM Best "A-", itu berarti Tugu Hongkong sudah mempunyai SIM atau Pasport untuk bisa main di Myanmar, Vietnam dan sebagainya.

Saat ini Tugu Hongkong ratingnya AM Best "B ++", jadi tinggal satu rating lagi Tugu Hongkong bisa mencapai "A-". Tentunya hal ini merupakan sebuah keuntungan koperatif yang dimiliki oleh TUGU Group untuk bisa masuk ke area-area lain, karena jika berbicara pada lingkungan industri di Indonesia, sebagus apapun perusahaannya tidak akan mampu mendapatkan rating lebih baik dibandingkan rating perusahaan asuransi lokal secara umum.

Memiliki rating yang tinggi (berskala Nasional dan Internasional) sangat diperlukan karena sebagai salah satu marketing tools yang kuat dipakai untuk menawarkan jasa-jasa asuransi dimana orang selain tertarik kepada produknya, tetapi juga melihat secara finansialnya, apakah sudah pasti mampu untuk mengelola risiko. Karena kita boleh memiliki produk yang bagus tapi jika kita tidak mempunyai kekuatan finansial maka jika terjadi masalah atau claim kita tidak punya dana untuk menggantinya. Oleh karena itu, perusahaan asuransi harus memiliki produk yang bagus dan finansial yang kuat.

Adapun untuk TUGU sendiri pada tahun 2008 telah berhasil meraih penghargaan FitchRatings sebagai perusahaan dengan peringkat IFS (Insurer Financial Strength) Nasional "A+" dengan prospek Stabil. Peringkat tersebut mencerminkan keunggulan TUGU dalam penyelenggaraan asuransi sektor energi dan non energi baik secara konvensional maupun syariah, dengan dukungan permodalan yang kuat dan reasuransi terbaik serta strategi investasi yang konvensional.


Jadi target jangka panjangnya adalah menjadikan TUGU sebagai perusahaan asuransi umum/kerugian yang go internasional atau world class. Tapi bagaimana untuk jangka pendeknya TUGU itu sendiri? Untuk jangka pendek, TUGU harus tetap menjaga RKAP yang sudah dicanangkan. RKAP itu melibatkan bisnis-bisnis TUGU di Indonesia, dan itu harus tetap dicapai sebagai pembuktian bahwa kami tetap tumbuh dan berkembang (growth). kemudian target lain kita yang jangka pendek tentunya untuk tahun ini kita sudah mempunyai beban untuk menaikkan target laba 10 persen dari realisasi tahun 2009.


Untuk kemajuan TUGU ke depannya nanti apakah akan ada inovasi atau terobosan baru buat TUGU? Sebagai perusahaan asuransi umum/kerugian TUGU memiliki berbagai produk unggul, tak dipungkiri penutupan resiko di bidang industri Migas memang masih menjadi produk yang paling unggul. Namun begitu, TUGU semakin sukses menawarkan produk dan layanan asuransi lainnya seperti pengangkutan, rangka kapal, rangka pesawat, engineering, property, surety bond, kesehatan, serta aneka produk tailor-made baik secara konvensional maupun Syariah. Jadi, walaupun TUGU telah diakui memiliki spesialisasi pada asuransi industri Migas, namun kami terus bertekad juga menggenjot bisnis asuransi korporat non Migas.


Apa harapan ke depannya bagi TPI? Harapan kami selaku top management, seluruh resources TUGU harus semakin optimis dan jeli melihat peluang yang ada, karena potensi sebagai pemain regional semakin terbuka luas dan kita masih memiliki added value diatas rata-rata kompetitor lain.MPIK/NDJ Read the full story

Kerjasama Usaha Biofuel antara Pertamina dan PTPN

4.14.2010 0 comments

PT Pertamina (Persero) melakukan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) kerjasama usaha biofuel dengan PTPN III, PTPN IV, dan PTPN V. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan dengan Direktur Utama PTPN III Amri Siregar, Direktur Utama PTPN IV Dahlan Harahap dan Direktur Utama PTPN V Fauzi Yusuf, disaksikan oleh Menteri BUMN Mustafa Abubakar di Jakarta, Kamis (8/4).

Dalam kesempatan tersebut, Menteri BUMN Mustafa Abubakar menjelaskan bahwa saat ini, PTPN III, PTPN IV, dan PTPN V telah menyusun studi kelayakan dan rencana usaha pendirian joint venture company (JVC) dan pembangunan pabrik biodiesel. Terkait dengan itu, lanjut Abubakar, melalui nota kesepahaman Pertamina menyatakan keinginannya untuk membeli biodiesel yang dihasilkan dari JVC tersebut.

"Untuk itu, masing-masing pihak akan melakukan kajian lebih lanjut mengenai pelaksanaan, ketentuan dan syarat-syarat offtake biodiesel yang akan dituangkan dalam perjanjian jual beli antara Pertamina dengan JVC tersebut,"paparnya.

Adapun komitmen Pertamina, lanjut Abubakar, berkaitan dengan jumlah biodiesel yang akan dibeli mengacu kepada kebijakan dan peraturan pemerintah dalam pegembangan biofuel (biodiesel dan bioetanol). "PTPN III, PTPN IV, dan PTPN V pun berkomitmen menggunakan produk Pertamina seperti halnya diesel, IFO, pelumas dan produk lainnya," ujarnya.

Dalam pendirian JVC dimaksud, tidak tertutup kemungkinan Pertamina juga akan turut serta sebagai pemegang saham.

Menurut Abubakar, ke depan akan dikaji kerjasama lainnya, yang meliputi kerjasama pengembangan greendiesel,
jual beli CPO dan derivative-nya, pemanfaatan kilang biodiesel milik JVC melalui tool manufacturing oleh Pertamina, kerjasama pembangunan kilang bio-diesel tahap berikutnya dan kerjasama di bidang perkebunan.MPNDJ Read the full story

Pertamina : Iklan Kelas Dunia

Iklan kelas dunia? Perlu diskusi panjang untuk mendefinisikan iklan kelas dunia untuk produk-produk Pertamina dan iklan korporat. Dalam referensi kepustakaan barangkali banyak menjelaskan soal ini, tapi seperti juga penerapan best practice lain untuk diterapkan di Pertamina, masih perlu meredefinisi lagi agar benar-benar pas bisa menjawab kebutuhan Pertamina di bidang periklanan. Salah satunya adalah dengan melakukan benchmarking dengan iklan-iklan kelas dunia. Semua sistem dan best practice harus disiapkan dengan sistem yang pas dengan kondisi dan aspirasi Pertamina sendiri, dari mulai GCG yang pas dengan Pertamina, ERP versi mySAP yang benar-benar aplikatif dengan kondisi Pertamina, SPBU kelas dunia yang pas dengan kondisi SPBU di Indonesia, dan lain-lain.

Penyesuaian atau redefinisi, bukan berarti menghilangkan nilai unggul dari sistem atau best practice bersangkutan, melainkan lebih pada improvisasi dan improvement agar lebih cocok dan bisa diterapkan efektif sesuai kondisi, situasi, Visi-Misi Pertamina, budaya kerja dan kinerja Pertamina baru.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pertamina sudah semakin gencar dan rajin beriklan, baik untuk produk maupun citra korporat. Ini sebuah langkah maju, dibandingkan dengan sikap pasif Pertamina pada masa lalu. Tapi apakah Pertamina sudah mengiklankan berbagai kegiatan, prestasi, produksi, yang memang benar-benar perlu dipublikasikan atau diiklankan, dipublikasikan dan diiklankan dengan cara dan strategi publikasi dan iklan yang pas, efektif, dan menarik, sesuai bujet yang ada? Atau alakadar dan di bawah standar, baik jumlah slot iklan/publikasi (TV, radio website), ketersebaran di media yang mewakili segmentasi yang dituju dan dikehendaki (TV, radio, atau koran mana yang pas), waktu dan moment pemasangan iklan/publikasi (terlambat atau terlalu cepat, ada di prime time atau di jam yang sepi penonton), maupun efektif tidaknya komunikasi dari iklan/publikasi tersebut? Apakah message yang mau disampaikan sudah sesuai dengan kebutuhan Pertamina, dan efektif penyampaiannya?

Dalam konteks perusahaan, biaya suatu produk atau kegiatan yang berkaitan dengan publik, biaya item promosi seringkali lebih besar dari biaya produksi atau program itu sendiri. Hal ini sangat tergantung pada lifecycle produk. Bahkan saking agresifnya, dalam kegiatan nirlaba seperti corporate social responsibility (CSR), program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL), bantuan bencana alam, bantuan pendidikan, dan kesehatan, atau penyaluran zakat, infak, dan shodaqoh, beberapa perusahaan besar mempublikasikan dengan besar-besaran.

Pertamina sudah harus meninggalkan budaya low profile ketika sudah menorehkan prestasi, kontribusi, dan pencapaian target-target produksi dan kinerja keuangan. Untuk CSR dan produk-produk, serta citra korporat, Pertamina sudah semakin gencar mempublikasikan. Dari hasil Survey Citra 2009, popularitas program CSR Pertamina sudah mulai naik ratingnya. Tapi ini harus terus ditingkatkan dan disempurnakan hingga sesuai best practice iklan kelas dunia, cocok dengan kebutuhan Pertamina, dan meningkatkan brand value Pertamina di mata publik.MP Read the full story

Pertamina : Undang -undang Lingkungan

4.05.2010 0 comments

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menjadi bahan diskusi ramai di kalangan pelaku bisnis minyak dan gas bumi belakangan ini. Kenapa harus ramai kalau semua Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) memiliki komitmen dalam menjaga lingkungan atau K3LL (Kesehatan dan Keamanan Kerja dan Lindungan Lingkungan), termasuk Pertamina?

Persoalannya bukan pada setuju atau tidak setuju adanya UU Lingkungan, tetapi terletak pada implementasi yang masih harus disesuaikan lagi dengan kondisi yang ada sekarang di kegiatan sektor migas. UU Lingkungan tidak hanya menyangkut kegiatan migas, tetapi juga industri lain yang kegiatannya berdampak pada pencemaran dan kerusakan lingkungan, termasuk bagaimana pengelolaan kehutanan, kelautan, hingga pengendalian emisi gas buang di udara, dan pencemaran air dan tanah di mana kita berpijak.

Lumrahnya pembuatan sebuah UU, dari mulai draft disusun, diajukan oleh Pemerintah atau inisiatif DPR, lalu dibahas dalam proses legislasi di DPR bersama Pemerintah dan narasumber yang kompeten, hingga disetujui oleh DPR dan disahkan oleh Presiden dan didaftarkan di lembaran Negara, memerlukan proses yang tidak serta-merta.

Berikutnya, setelah UU itu terbit masih harus disosialisasikan dan dibuat peraturanperaturan di bawahnya, dan itu memerlukan waktu 12 tahun sejak UU itu terbit. PT Pertamina (Persero), lembaga BP Migas, BPH Migas, itu didirikan dua tahun sejak UU Migas terbit tahun 2001. Ini sekadar contoh, karena UU itu mengisyaratkan selambat-lambatnya dua tahun sejak UU tesebut terbit.

Kekhawatiran kalangan perusahaan migas dengan adanya penerapan sanksi pidana untuk berbagai pelanggaran lingkungan, sebetulnya bisa dipahami, mengingat kegiatan migas dan panasbumi dalam berbagai tahapan kegiatan berpotensi memberikan dampak yang bersifat negatif apabila sistem dan pengelolaannya tidak memenuhi prosedur operasi yang telah ditetapkan.

Pertamina yang pada 7 Juni 1973 membentuk Badan Koordinasi Lindungan Lingkungan (BKLL) tampil paling depan dalam urusan meminimalkan dampak negatif dalam kegiatan migas dan pabumnya. Karena badan itu berdiri setahun setelah pada 56 Juni 1972 terselenggara konferensi pertama lingkungan hidup sedunia di Stockholm, Swedia. Dan sekarang di Pertamina ada K3LL atau HSE (Health, Safety, and Environment) baik di Kantor Pusat maupun di Unit-unit Operasi di seluruh Indonesia, dan prestasinya pun tak diragukan. Tetapi berkaitan dengan kehadiran UU Lingkungan, harapan Pertamina adalah adanya masa persiapan untuk menyempurnakan Program HSE dengan UU baru tersebut.MP Read the full story

Pertamina Raih Cabotage Awards 2010

Pertamina mendapatkan penghargaan dari Indonesia Cabotage Advocation Forum 2010, berupa Cabotage Awards 2010. Penghargaan diberikan oleh Rektor UI Gumilar Rusliwa Sumantri kepada Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko Pertamina Ferederick ST Siahaan, Rabu (31/3).

Dalam kesempatan tersebut, Ferederick menjelaskan mengapa Pertamina mendapatkan penghargaan tersebut, karena Pertamina selalu mengikuti aturan yang ada dan Pertamina juga terus mendorong perusahaan nasional untuk mengambil bagian lebih banyak dari bisnis perkapalan di Pertamina. "Apalagi Pertamina termasuk konsumen perkapalan yang cukup besar untuk membawa komoditi minyak mentah dan produk kilang," ujarnya.

"Nah, mungkin sekarang Pertamina mendapatkan penghargaan karena konsisten menerapkan aturan itu. Saya pribadi sebetulnya mengharapkan lebih lagi, bukan hanya kapal berbendera Indonesia tetapi mengenai tarif sewa kapal dalam rupiah bukan dolar. Yang pasti Pertamina akan tetap mendorong untuk Merah Putih dan Pertamina akan berdiri paling depan dari sisi konsistensi," paparnya.

Penerapan asas cabotage di Indonesia bertujuan bukan untuk mengusir atau melarang orang asing berada di perairan Indonesia. Persepsi yang muncul di masyarakat dengan penerapan asas cabotage di Indonesia saat ini adalah Indonesia (WNI) melawan pihak asing (WNA). Latar belakang penerapan asas cabotage di Indonesia adalah agar pengusaha nasional dan pengusaha asing yang akan mendaftarkan kapal di Indonesia menanamkan atau mendirikan usahanya di Indonesia yang selanjutnya wajib mengunakan asuransi, perbankan, serta menciptakan lapangan pekerjaan di Indonesia. Diharapkan hal ini selanjutnya akan menimbulkan multiplier effect kepada sektorsektor lainnya di Indonesia dan akan meningkatkan pendapatan negara.

Konsep asas cabotage berbeda dengan konsep flags of convenience yang dianut oleh beberapa negara. Dalam konsep flags of convenience, pengusaha yang berbeda kewarganegaraan atau badan usaha yang didirikan diluar negara penganut konsep flags of convenience tersebut, dapat mendaftarkan kapalnya untuk memperoleh bendera negara yang bersangkutan. Dengan demikian, pajak yang seharusnya masuk ke negara pemilik kapal masuk ke negara yang tempat kapal yang didaftarkan.MPNDJ

Written by DIVISI KOMUNIKASI Read the full story

PT. Pertamina EP (Eksplorasi & Produksi )

3.31.2010 0 comments

PT Pertamina EP atau lebih familiar sebagai Pertamina EP - dalam keseharian disebut PEP benar-benar sedang berjuang keras mencapai target besarnya. Sampai tahun 2009 lalu, sebagian target tercapai atau malah melampaui target, sebagian lagi masih harus diperbaiki. Tetapi yang mendorong Pertamina EP bekerja super keras adalah bagaimana tahun 2011 harus mampu mencapai target produksi baik minyak maupun gas mengalahkan posisi nomor satu yang masing-masing ditempati Total dan Chevron.

Bagi PT Pertamina (Persero) targettarget produksi minyak dan gas menjadi mutlak adanya karena salah satu indikator Pertamina menjadi perusahaan migas nomor satu di Indonesia tahun 2013, ya dari sisi produksi, termasuk perhitungan cadangan yang dimiliki. Walaupun pada akhirnya indikator lain seperti besarnya aset perusahaan , revenue dan profit tak kalah penting harus dicapai juga.

Tahun 2009 lalu Pertamina secara korporat memasang target produksi minyak 171.900 BOPD dan target produksi gas sebesar 1.266 MMSCFD. Dari target-target itu sebagian besar dibebankan kepada Pertamina EP yang mengelola lapangan eks WKP Pertamina. Untuk minyak target sebesar 125.500 BOPD atau 73 persen dari keseluruhan target konsolidasi Pertamina korporat. Selebihnya menjadi target Pertamina Hulu Energy atau PHE, 34.700 BOPD (20,2 persen), dan Pertamina EP Cepu sebesar 6.700 (3,9 persen), dan target dari lapangan hasil akuisisi sebesar 5.000 BOPD (2,9 persen). Sementara target gas, Pertamina EP ditetapkan dengan target 88,7 persen dari target konsolidasi Pertamina korporat, dan PHE sebesar 11,3 persen.

Pertamina EP sendiri telah melebihi target. Realisasi KPI Pertamina EP untuk produksi minyak mencapai 120 persen, sedangkan untuk produksi gas mencapai 106 persen. Barangkali realisasi penambahan cadangan minyak dan gas masih di bawah target.

Perjuangan Pertamina EP mencapai target-targetnya melahirkan cerita menarik, sehingga WePe Edisi Februari 2010 ini menurunkan bagaimana Pertamina EP mencapai target-targetnya itu. Terimakasih, Wassalam.WP NS Read the full story

,

PGE - PLN Sepakat Kembangkan Industri Sumber Daya Panas Bumi

3.04.2010 1 comments

Sumber energi panas bumi merupakan sumber energi bersifat terbarukan (renewable energy) dan ramah lingkungan. Pemanfaatan sumber energi panasbumi menjadi tenaga listrik tidak memerlukan proses pembakaran (combustion process) sehingga pembangkit tidak menghasilkan emisi gas-gas yang berbahaya bagi lingkungan. Dari sudut pandang isu pemanasan global, Pusat Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) menghasilkan CO2 maupun gas-gas rumah kaca (GHG) pada tingkat yang amat sangat rendah.

Untuk itu PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) melaksanakan kerjasama Perjanjian Jual Beli Uap Panas Bumi (PJBU) untuk PLTP Unit I dan PLTP Unit II Ulubelu, Lampung dengan PT PLN (Persero). Selain itu, PGE melakukan Head of Agreement (HoA) dengan PLN tentang Pengembangan dan Pemanfaatan Sumber Daya Panas Bumi.

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama PT. PGE Abadi Poernomo, Direktur Utama PT PLN (Persero) Dahlan Iskan dan Direktur Perencanaan PT PLN (Persero) Nasri Sebayang yang disaksikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan. Bertempat di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Rabu (17/2).

"Kerjasama ini dalam rangka pemenuhan kebutuhan energi listrik sehingga memberikan kontribusi penting bagi keamanan dan kehandalan pasokan tenaga listrik serta perkembangan ekonomi dan sosial di Propinsi Lampung dan sekitarnya, maupun Sumatera bagian selatan pada umumnya," kata Abadi Poernomo.

PJBU untuk PLTP Ulubelu antara PGE dan PLN adalah perjanjian jual beli uap panas bumi antara PGE sebagai penjual dan PLN sebagai pembeli. PGE menjual uap panas bumi yang dieksploitasi dari Lapangan Panas Bumi Ulubelu di Wilayah Kuasa Pengusahaan Way Panas, Lampung. PLN membeli uap panas bumi untuk digunakan sebagai sumber energi penggerak turbin PLTP Ulubelu unit I dan unit II dengan kapasitas masingmasing unit 55 MW atau total 110 MW.

Menurut Abadi Poernomo, PGE akan mensuplai uap panas bumi dengan harga uap 4,2 cent USD/kWh dan eskalasi 2 persen per tahun selama masa perjanjian 30 tahun sejak tanggal mulai pengoperasian komersial (COD) yang diperkirakan akhir 2012. Dengan faktor kapasitas 85 persen selama satu tahun jumlah jual beli kWh adalah sebesar 819 GWh.

"Ini adalah salah satu langkah konkrit Pemerintah dan BUMN dalam memanfaatkan potensi panas bumi yang melimpah di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional sebagai salah satu negara yang memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia yang memiliki sekitar 265 lokasi tersebar di seluruh Indonesia," demikian dikatakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh dalam sambutannya.

Selain itu, untuk percepatan pengembangan sumber daya panas bumi (geothermal) secara nasional, PT PGE dan PT PLN telah sepakat melakukan Head of Agreement (HoA) jual beli energi yang akan diilakukan melalui dua skema bisnis pengembangan. Yaitu, dengan jual beli listrik yang berarti PGE akan mengembangkan mulai dari pengembangan lapangan uap atau bisnis hulu sampai dengan pembangunan PLTP atau bisnis hilir. Untuk skema bisnis total project ini ada empat lokasi, Ulubelu, HLumut balai, Lahendong dan Karaha dengan total kapasitas 400 MW.

Skema bisnis pengembangan kedua adalah PGE mengembangkan bisnis hulu sedangkan bisnis hilir akan dikerjakan PLN dan PGE menjual uap ke PLN dengan membuat PJBU. Untuk skema bisnis ini ada lima lokasi, Ulubelu, Lahendong, Hululais, Kotamobagu dan Sungai Penuh dengan total kapasitas 430 MW. Untuk keseluruhan lokasi di atas ditargetkan akan selesai pada tahun 2013 - 2014.

PGE merupakan anak perusahaan dari Pertamina yang bergerak dalam bidang pengelolaan energi panasbumi. PGE menghasilkan listrik sebesar 272 Mwe yang berasal dari lapangan panasbumi Kamojang (Jabar), Lahendong (Sulut), Sibayak (Sumut). Diharapkan jangka waktu 5 tahun ke depan PGE dapat menghasilkan listrik sebesar 800 MWe.MPIK

Written by DIVISI KOMUNIKASI Read the full story

,

Pertamina sebagai Simbol Indonesia

1.20.2010 0 comments

Lomba karya tulis dan foto menjadi salah satu rutinitas yang dilaksanakan Region 1 Sumbagut saban Pertamina berulang tahun. Semacam reward yang dikompetisikan untuk kawan-kawan media di wilayah region satu yang mencakup lima provinsi. Tujuan akhirnya, berupaya merangkul media untuk lebih membumi dengan Pertamina.

Syarat utama untuk ikut serta lomba, tulisan tersebut yang diperlombakan harus sudah dimuat di media. Sementara ketentuan untuk foto sedikit lebih longgar, tak harus dimuat di media, namun jika dimuat akan memberi nilai lebih.

Alasan mengapa harus dimuat di media, ya karena ini publikasi yang murah dibandingkan harus memasang iklan. Jika setiap koran memberikan porsi 400 centimeter bujursangkar untuk setiap artikel, dan ada 20 artikel yang ikut lomba, itu artinya ada 800 centimeter bujursangkar atau delapan meter persegi yang bercerita tentang Pertamina dalam sisi positif. Sebab biasanya setiap peserta berasumsi jika artikelnya tentang Pertamina jelek, maka peluang menang akan kecil. Walau asumsi itu salah, tentu saja kami tidak mau repot-repot membantah asumsi tersebut. Lumayan, ada lebih 30 artikel yang baik tentang Pertamina di tengah deraan berbagai masalah. Bandingkan jika harus memasang iklan seluas delapan meter persegi, berapa biayanya?

Untuk kemudahan penilaian, kami menentukan sebuah tema. Biasanya tema tema itu masih terkait dengan tema ulang tahun yang ditentukan kantor pusat. Tahun lalu tema yang diusung Pertamina Menuju Perusahaan Kelas Dunia, ya tema ini jugalah yang dijadikan rujukan bagi para peserta. Maka, masuklah beragam tulisan dari media yang terbit di Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau.

Menarik dan terkadang membuat tersenyum membaca tulisan-tulisan yang dikirimkan peserta. Ada juga yang membuat pusing karena idenya tidak berkorelasi dengan kondisi yang ada, alias mengadaada. Ada juga yang berharap banyak pada penginternasionalan Pertamina.

Berikut salah satu kutipan tulisan tersebut. Mungkinkah ada logo Pertamina di kaos Rooney atau Giggs saat membela MU? Mungkin dan bisa. Mungkinkah ada logo Pertamina di salah satu jet darat yang bertarung di ajang F1? Bisakah jadi sponsor MU itu dapat disebutkan bahwa Pertamina sedang menuju sebagai perusahaan kelas dunia? Bisa, walaupun baru satu aspek... Pertanyaannya, mungkinkah Pertamina mengikuti jejak perusahaan dunia tersebut dan (ehm) logonya bisa nongol di lacar kaca melalui aksi menawan seorang Rooney?

Tulisan ini merupakan pemenang pertama lomba dan berhak memboyong hadiah Rp 5 juta. Artikel berjudul Logo Pertamina di MU dan Formula 1 itu ditulis Robby Effendi dan dimuat di Harian Global, Medan.


MENJADI SIMBOL INDONESIA

Secara keseluruhan, tulisan-tulisan yang ikut lomba tahun lalu, menjadi semacam kaca pembesar, bisa juga dipandang sebagai cermin, sejauh mana ekspektasi masyarakat, yang sebagian di antaranya terepresentasikan dari kerja kolektif wartawan, terhadap keberlangsungan sebuah perusahaan milik bangsa bernama Pertamina. Mereka mempunyai pengharapan yang tinggi, berharap Pertamina bisa dikenal secara luas dan dengan demikian Pertamina bisa menjadi sebuah simbol tentang Indonesia.

Indonesia bukanlah sekedar Bali. Indonesia bisa terjelaskan melalui logo Pertamina itu sendiri. Pertaminalah yang menurut mereka seharusnya menjadi representasi Indonesia di dunia internasional, karena memang emungkinkan untuk itu. Mereka berharap banyak pada sepakbola, sayangnya di tingkat Asia saja sudah kandas, konon pula pemenang Piala Dunia, sehingga harapan itu pupus untuk sementara waktu.

Walau saya sendiri cenderung berpikir bahwa efektivitas keterkenalan bukanlah diukur dari sebuah iklan yang terpampang di bagian depan baju seorang pemain bola atau kap depan mobil balap, tetapi berbagai harapan tentang keinternasionalan Pertamina itu bisa dicapai dengan sebuah kerja keras. Ya, kerja keras adalah energi kita. Siapapun yang menciptakan tag iklan itu, memberi nuansa baru bagi pencitraan Pertamina.

Pertamina memang harus bekerja lebih keras menghadapi semua persaingan, ketika begitu banyak sekat regulasi yang telah dan akan dibuat yang pada gilirannya akan memarjinalkan peran Pertamina sebagai pemain utama bisnis migas di dalam negeri.

Lihatlah misalnya status Pertamina yang selama ini menjadi pemain tunggal dalam pendistribusian BBM bersubsidi di dalam negeri. Namun mulai Januari 2010 Pertamina tidak lagi sendirian, ada beberapa perusahaan pendamping yang juga menjual BBM bersubsidi. Baiklah, itu domainnya pemerintah, dan oleh karena itu harus dipandang sebagai sebuah upaya pemerintah memberikan yang terbaik untuk bangsa. Namun di mata masyarakat, hal ini hanya mungkin terjadi karena Pertamina dipandang tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik maka pemerintah menunjuk perusahaan lain.

Ini masalah persepsi. Setiap orang bisa punya pandangan berbeda, punya pendapat yang lain tentang sesuatu hal. Sama halnya seperti memandang sebuah mangkuk dari abad ke-14 peninggalan Dinasti Ming. Seorang kolektor ulung akan memandangnya sebuah mahakarya agung yang bernilai tinggi, sementara seorang ibu dari Toba Samosir mungkin memandangnya dari sisi manfaat dan bisa saja berpendapat masih lebih bagus mangkuk plastik di rumahnya.

Mustahil menyeragamkan pendapat masyarakat tentang sesuatu hal, tetapi justru inilah tantangannya. Pertamina harus terus bekerja keras meningkatkan citra. Membangun sendiri imej sebagai perusahaan kelas internasional, dalam upaya menjadi perusahaan kelas dunia.MP


FITRI ERIKA
Pemasaran BBM Retail Region I Medan

Read the full story