Showing posts with label Pertamina. Show all posts
Showing posts with label Pertamina. Show all posts

Hemat Rp 35 Miliar/Tahun, Depo Plumpang Jadi Kelas Dunia

12.24.2010 0 comments

JAKARTA–Diresmikannya layanan New Gantry sebagai bagian dari Terminal Automation System (TAS) Instalasi Jakarta Group, menjadikan Depo Plumpang sebagai fasilitas distribusi BBM berkelas dunia.

Layanan New Gantry ini diresmikan oleh Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan didampingi Direktur Pemasaran & Niaga Djaelani Sutomo di Instalasi Jakarta Group (IJG) Depot Plumpang, Senin (20/12).

Dengan adanya sistem ini, membuat aktivitas penyaluran BBM di Depo Plumpang menjadi lebih cepat, akurat dan menghemat biaya operasional hingga Rp 30-35 miliar per tahun.

Karen Agustiawan mengatakan modernisasi fasilitas dan sistem distribusi ini merupakan salah satu program transformasi fasilitas distribusi BBM dalam rangka menuju operation yang excellent dan akan mengubah mindset serta pola kerja untuk lebih efisien dan efektif.

"Saya tidak ingin mendengar lagi ada keterlambatan distribusi BBM, dan benefit dari sistem ini akan lebih memperkuat Depo. Plumpang menjadi kelas dunia. Saya berharap depo-depo Pertamina lainnya segera menyusul menerapkan sistem distribusi seperti ini," ungkap Karen.

Keuntungan lain dari sisi operasional pengisian BBM yang semula 68 bays (gerbang loading BBM ke tanki), kini cukup hanya 12 bays. Dimana kapasitas loading masingmasing bays menjadi lebih besar, dari 900 liter per menit menjadi 2.200-2.400 liter per menit.

SVP Distribusi Pertamina Joko Prasetyo, lebih lanjut menyampaikan melalui sistem ini waktu layanan pun menjadi lebih singkat yang sebelumnya 40-52 menit per mobil tanki sekarang hanya 4-8 menit per mobil tanki sehingga jumlah mobil tanki yang dibutuhkan untuk mendistribusikan BBM di Jabodetabek turut berkurang menjadi 157 mobil tanki dari 230 mobil tanki. Apalagi ditambah dukungan kapasitas mobil tanki BBM Pertamina yang kini mampu mengangkut BBM lebih banyak dan multi produk.

Di samping itu, untuk pengisian dan penghentian loading time tidak dilakukan lagi secara manual tapi secara otomatis. Sistem ini terhubung dengan komputer dan memudahkan rekonsiliasi data sehingga bisa didapat data harian secara cepat dan akurat, mencegah backlog sistem MySap akibat keterlambatan atau kesalahan Good Issues.

Keunggulan lain Instalasi Jakarta Group Plumpang yakni dilengkapi dengan in-line blending yang memungkinkan IJG melakukan pencampuran sehingga menghasilkan produk seperti Pertamax, Bio Solar, Bio Premium, dan lain-lain.

Selain kecanggihan sistem, tampilan bays pun ditingkatkan menjadi lebih modern dan praktis, ditambah sistem penguncian bau, sehingga tidak tercium bau ketika pengisian BBM dilakukan.

Rata-rata penyaluran BBM dari Depo Plumpang mencapai 17.500 KL per hari terdiri dari 11.000 KL Premium, 4.300 KL Solar, 2.200 KL Pertamax dan 200 KL Pertamax Plus.MPIK Read the full story

Go Go! Pertamina EP menjadi perusahaan kelas dunia

4.01.2010 0 comments

Target Pertamina EP sebagai produser migas nomor satu di Indonesia tahun 2011 tak bisa digeser waktunya, karena pada tahun 2014 Visi Pertamina EP adalah menjadi perusahaan kelas dunia, sebuah tahapan yang ketat karena sudah merupakan tahapan berangkai sejak 2006. Peta jalan atau Roadmap logisnya dilaksanakan secara disiplin sesuai dengan target waktu, target angka, dan target kualitas, di segala lini perusahaan. Dari mulai sisi operasi sampai sisi keuangan, dari core business sampai penunjang.



Pertamina - Always There


Tahun 2008 kemarin, Visi Pertamina EP adalah sebagai produsen migas yang terpandang, efektif, dan efisien. Itu merupakan program tiga tahunan (2006 - 2008). Lalu pada tiga tahun berikutnya (2009 - 2011) Visi Pertamina EP menjadi produsen migas nomor satu di Indonesia dan tiga tahun berikutnya lagi (2012 - 2014) sebagai Perusahaan kelas dunia

Realita yang harus dihadapi Pertamina EP tidak hanya target yang ditetapkannya sendiri, karena target-target pencapaian dengan batas jadwal ketat itu sudah memperhitungkan faktor eksternal, yaitu posisi perusahaan migas lain yang ada di Indonesia sekarang, lalu dinamika perusahaan-perusahaan lain di dunia. Logis kalau ingin menjadi nomor satu di Indonesia, maka di tingkat produksi saja, Pertamina EP harus bisa menyalip Chevron dalam hal produksi minyak dan Total untuk produksi gas.

Pada peringkat 10 besar produsen migas di Indonesia, Pertamina EP berada dalam level kedua, baik untuk minyak maupun gas. Tetapi perbandingan tingkat produksi kedua perusahaan itu dengan Pertamina jauh sekali man! Ini bukan rahasia lagi. Dalam majalah Petro Energy, Nomor 5 Year IV, November - December 2008, misalnya disebutkan perbandingan itu, yaitu untuk minyak Chevron mencatat tingkat produksi 405 MBOPD, sementara Pertamina EP saat yang sama baru tercatat 120 MBOPD.

Sedangkan untuk produksi gas, nomor satu di Indonesia adalah Total yang membukukan angka produksi per akhir 2008 itu sebesar 2.524 MMSCFD, sementara Pertamina EP berada pada posisi nomor dua, yaitu sebesar 1.003 MMSCFD.

Data ini sekadar gambaran bahwa "pekerjaan rumah" Pertamina - tak hanya Pertamina EP, tapi juga Pertamina EP Cepu, Pertamina EP Randugunting, Pertamina Hulu Energy - adalah seperti itu gap-nya. Walaupun memang ada potensi penurunan produksi secara alamiah yang akan dialami oleh Chevron dan Total dalam beberapa tahun ke depan, tetapi pada saat yang sama Pertamina berarti harus menahan laju penurunan alamiah dengan menyukseskan program Enhanced Oil Recovery (EOR) atau teknik memproduksikan minyak tahap lanjut yang sudah dilaksanakan di sejumlah lapangan tua.

Hal yang membanggakan, ketika perusahaan-perusahaan besar dunia yang beroperasi di Indonesia cenderung turun alamiah produksinya ( decline), pada saat yang sama Pertamina EP justru menunjukkan kenaikan produksi. Coba bandingkan saja, ketika akhir 2008 tingkat produksi minyak sebesar 116,6 MBOPD, selanjutnya pada tahun 2009 kemarin produksi minyak Pertamina EP sudah mencapai rata-rata 127,1 MBOPD, bahkan pada bulan September sempat menembus angka produksi 134,7 MBOPD. Angka ini terus berubah fluktuatif, tetapi justru pencapaian itu memperlihatkan trend peningkatan.

Tahun 2009 Pertamina secara konsolidasi korporat menargetkan tingkat produksi minyak 171.900 BOPD. Sedangkan produksi gas ditargetkan saat itu sebesar 1266 MMSCFD, dan tercapai!

Dua catatan penting : Pertamina beserta anak perusahaannya harus berlari secara sprint karena angka yang harus dibukukan untuk menyalip Chevron dan Total tidak sedikit. Dan asal tahu saja, hingga sekarang sekitar 75 tingkat produksi minyak secara korporasi masih mengandalkan Pertamina EP dan untuk gas pun masih ke anak perusahaan pengelola eks wilayah kerja Pertamina ini, yaitu sebesar 88,7 persen. Artinya, "PR" Pertamina EP sangat berat.

Catatan kedua, bahwa kalau bekerja keras, kreatif, Pertamina EP terbukti mampu mencapai target-targetnya. Apakah target tahun 2011 akan menjadi kenyataan? Mari kita buktikan, Pertamina bisa!WP NS Read the full story

Harga BBM Non Subsidi Pertamina 01 April 2010

Terhitung tanggal 1 April 2010 pukul 00.00 WIB harga BBM non-subsidi Pertamina yang terdiri dari Pertamax, Pertamax Plus, Bio Pertamax, Pertamina Dex, dan Pertamina Dex Kemasan mengalami perubahan harga di beberapa unit pemasaran Pertamina.


Daftar Harga Produk BBM Non-subsidi Pertamina
untuk Periode 01 April 2010



Jenis BBK/ Lokasi
Harga Jual SPBU
01April 2010
(Rp)

Harga Jual SPBU
15 Maret 2010
(Rp)
I. PERTAMAX PLUS
- Batam
 7.000 7.000
- UPms I
 7.600 7.600
- UPms III
 7.300
7.300
- UPms IV
 7.600 7.400
- UPms V   7.600 7.600 
- UPms VI
 7.600 7.400
II. PERTAMAX
- UPms I
 7.350 7.300
- UPms II
 7.350 7.300
- Bangka
 8.600 8.550
- UPms III
 6.850 6.800
- UPms IV
 7.250 7.100
- UPms V   7.350 7.600 
- Bali
 7.350 7.300
- NTB
 7.600
7.400
- UPms VI
 7.300 7.100
- UPms VII
 7.400 7.300
- Palu
 8.700 8.600
- Kotamobagu
 9.400 9.300
- Gorontalo
 9.100 9.000
- Kendari
 8.900 8.800
- Tomohon
 9.800 9.700
- Bitung
 9.800 9.700
- Manado
 9.700 9.600
- Minahasa Selatan
 9.700 9.600
III. BIO PERTAMAX
- UPms III (Jakarta)
 6.850 6.800
- UPMS V   7.600 7.300
- Bali   7.350 7.300 
- NTB
 7.600 7.400
IV. PERTAMINA DEX SPBU
- UPms III
 7.500 7.400
- UPms V
 7.500 7.400
 

Harga Jual Pertamina Dex Kemasan
Harga produk Pertamina Dex Kemasan sebagai berikut :

UPMS III
UPMS IV
 

01 April
2010
15 Maret
2010

 
01 April
2010
15 Maret
2010
Pertamina Dex
Pertamina Dex
Kemasan + isi:
Kemasan + isi:
Kemasan 10L
 101.000 100.000
Kemasan 10L
105.000
104.000
Kemasan 20L
 200.000 198.500
Kemasan 20L
208.000 206.000
Isi/ refil:
Isi/ refil:
Kemasan 10L
 85.000 84.000
Kemasan 10L
 89.000 88.000
Kemasan 20L
 169.000 167.000
Kemasan 20L
177.000 175.000
 
Written by DIVISI KOMUNIKASI Read the full story

,

PGE - PLN Sepakat Kembangkan Industri Sumber Daya Panas Bumi

3.04.2010 1 comments

Sumber energi panas bumi merupakan sumber energi bersifat terbarukan (renewable energy) dan ramah lingkungan. Pemanfaatan sumber energi panasbumi menjadi tenaga listrik tidak memerlukan proses pembakaran (combustion process) sehingga pembangkit tidak menghasilkan emisi gas-gas yang berbahaya bagi lingkungan. Dari sudut pandang isu pemanasan global, Pusat Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) menghasilkan CO2 maupun gas-gas rumah kaca (GHG) pada tingkat yang amat sangat rendah.

Untuk itu PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) melaksanakan kerjasama Perjanjian Jual Beli Uap Panas Bumi (PJBU) untuk PLTP Unit I dan PLTP Unit II Ulubelu, Lampung dengan PT PLN (Persero). Selain itu, PGE melakukan Head of Agreement (HoA) dengan PLN tentang Pengembangan dan Pemanfaatan Sumber Daya Panas Bumi.

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama PT. PGE Abadi Poernomo, Direktur Utama PT PLN (Persero) Dahlan Iskan dan Direktur Perencanaan PT PLN (Persero) Nasri Sebayang yang disaksikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan. Bertempat di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Rabu (17/2).

"Kerjasama ini dalam rangka pemenuhan kebutuhan energi listrik sehingga memberikan kontribusi penting bagi keamanan dan kehandalan pasokan tenaga listrik serta perkembangan ekonomi dan sosial di Propinsi Lampung dan sekitarnya, maupun Sumatera bagian selatan pada umumnya," kata Abadi Poernomo.

PJBU untuk PLTP Ulubelu antara PGE dan PLN adalah perjanjian jual beli uap panas bumi antara PGE sebagai penjual dan PLN sebagai pembeli. PGE menjual uap panas bumi yang dieksploitasi dari Lapangan Panas Bumi Ulubelu di Wilayah Kuasa Pengusahaan Way Panas, Lampung. PLN membeli uap panas bumi untuk digunakan sebagai sumber energi penggerak turbin PLTP Ulubelu unit I dan unit II dengan kapasitas masingmasing unit 55 MW atau total 110 MW.

Menurut Abadi Poernomo, PGE akan mensuplai uap panas bumi dengan harga uap 4,2 cent USD/kWh dan eskalasi 2 persen per tahun selama masa perjanjian 30 tahun sejak tanggal mulai pengoperasian komersial (COD) yang diperkirakan akhir 2012. Dengan faktor kapasitas 85 persen selama satu tahun jumlah jual beli kWh adalah sebesar 819 GWh.

"Ini adalah salah satu langkah konkrit Pemerintah dan BUMN dalam memanfaatkan potensi panas bumi yang melimpah di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional sebagai salah satu negara yang memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia yang memiliki sekitar 265 lokasi tersebar di seluruh Indonesia," demikian dikatakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh dalam sambutannya.

Selain itu, untuk percepatan pengembangan sumber daya panas bumi (geothermal) secara nasional, PT PGE dan PT PLN telah sepakat melakukan Head of Agreement (HoA) jual beli energi yang akan diilakukan melalui dua skema bisnis pengembangan. Yaitu, dengan jual beli listrik yang berarti PGE akan mengembangkan mulai dari pengembangan lapangan uap atau bisnis hulu sampai dengan pembangunan PLTP atau bisnis hilir. Untuk skema bisnis total project ini ada empat lokasi, Ulubelu, HLumut balai, Lahendong dan Karaha dengan total kapasitas 400 MW.

Skema bisnis pengembangan kedua adalah PGE mengembangkan bisnis hulu sedangkan bisnis hilir akan dikerjakan PLN dan PGE menjual uap ke PLN dengan membuat PJBU. Untuk skema bisnis ini ada lima lokasi, Ulubelu, Lahendong, Hululais, Kotamobagu dan Sungai Penuh dengan total kapasitas 430 MW. Untuk keseluruhan lokasi di atas ditargetkan akan selesai pada tahun 2013 - 2014.

PGE merupakan anak perusahaan dari Pertamina yang bergerak dalam bidang pengelolaan energi panasbumi. PGE menghasilkan listrik sebesar 272 Mwe yang berasal dari lapangan panasbumi Kamojang (Jabar), Lahendong (Sulut), Sibayak (Sumut). Diharapkan jangka waktu 5 tahun ke depan PGE dapat menghasilkan listrik sebesar 800 MWe.MPIK

Written by DIVISI KOMUNIKASI Read the full story

Direksi Baru Pertamina 2010 Dilantik

2.19.2010 2 comments


Beberapa Direksi baru PT Pertamina (Persero) dilantik hari ini. Terjadi perubahan dalam susunan Dewan Direksi.

Susunan Dewan Direksi PT Pertamina (Persero) yang baru terdiri dari Direktur Utama, Direktur Perencanaan dan Investasi, Direktur SDM, Direktur Umum, Direktur Hulu, Direktur Pengolahan, Direktur Pemasaran dan Niaga dan Direktur Keuangan. Sebelumya susunan Dewan Direksi PT Pertamina (Persero) terdiri dari Direktur Utama, Wakil Direktur Utama, Direktur Hulu, Direktur Pengolahan, Direktur Pemasaran, Direktur Keuangan dan Direktur Umum dan SDM.

Direksi PT Pertamina (Persero) yang dilantik hari ini 19 Februari 2010 adalah:

Direktur Perencanaan Investasi
dan Management Resiko
: Ferederick ST Siahaan
Direktur SDM : Rukmi Hadihartini
Direktur Umum : Waluyo
Direktur Hulu : Bagus Setiardja
Direktur Pengolahan : Edi Setianto
Direktur Pemasaran dan Niaga : Djaelani Sutomo
Direktur Keuangan : Mohamad Afdal Bahaudin


Seusai pelantikan Direksi baru, Dirut Pertamina, Karen Agustiawan, mengatakan, " Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan apresiasi dan penghargaan saya kepada Direksi Pertamina yang telah menyelesaikan masa tugasnya atas kerja keras dan dedikasi tinggi yang telah diberikan untuk bersama-sama memajukan Pertamina selama ini. Saya berpendapat, bahwa jajaran Direksi Pertamina telah begitu berhasil menjaga kekompakan dan komitmen untuk menjalankan tugas dan melanjutkan cita-cita tranformasi yang telah dirintis oleh Jajaran Direksi sebelumnya."

Kepada Jajaran Direksi yang baru terpilih, Karen menegaskan bahwa untuk prestasi dan program transformasi yang sudah dirintis bersama-sama oleh Direksi sebelumnya sejak tiga tahun lalu tetap dijaga keberlangsungannya. "Melihat jumlah anggota Direksi yang baru ini, serta bertambahnya Direktorat teknis yang semakin fokus, membuat saya semakin optimis bahwa bisnis Pertamina ke depan kinerja perusahaan ini akan semakin melesat lebih cepat untuk menuju Perusahaan Minyak dan Gas Nasional kelas dunia." sambungnya. Read the full story

,

Pertamina sebagai Simbol Indonesia

1.20.2010 0 comments

Lomba karya tulis dan foto menjadi salah satu rutinitas yang dilaksanakan Region 1 Sumbagut saban Pertamina berulang tahun. Semacam reward yang dikompetisikan untuk kawan-kawan media di wilayah region satu yang mencakup lima provinsi. Tujuan akhirnya, berupaya merangkul media untuk lebih membumi dengan Pertamina.

Syarat utama untuk ikut serta lomba, tulisan tersebut yang diperlombakan harus sudah dimuat di media. Sementara ketentuan untuk foto sedikit lebih longgar, tak harus dimuat di media, namun jika dimuat akan memberi nilai lebih.

Alasan mengapa harus dimuat di media, ya karena ini publikasi yang murah dibandingkan harus memasang iklan. Jika setiap koran memberikan porsi 400 centimeter bujursangkar untuk setiap artikel, dan ada 20 artikel yang ikut lomba, itu artinya ada 800 centimeter bujursangkar atau delapan meter persegi yang bercerita tentang Pertamina dalam sisi positif. Sebab biasanya setiap peserta berasumsi jika artikelnya tentang Pertamina jelek, maka peluang menang akan kecil. Walau asumsi itu salah, tentu saja kami tidak mau repot-repot membantah asumsi tersebut. Lumayan, ada lebih 30 artikel yang baik tentang Pertamina di tengah deraan berbagai masalah. Bandingkan jika harus memasang iklan seluas delapan meter persegi, berapa biayanya?

Untuk kemudahan penilaian, kami menentukan sebuah tema. Biasanya tema tema itu masih terkait dengan tema ulang tahun yang ditentukan kantor pusat. Tahun lalu tema yang diusung Pertamina Menuju Perusahaan Kelas Dunia, ya tema ini jugalah yang dijadikan rujukan bagi para peserta. Maka, masuklah beragam tulisan dari media yang terbit di Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau.

Menarik dan terkadang membuat tersenyum membaca tulisan-tulisan yang dikirimkan peserta. Ada juga yang membuat pusing karena idenya tidak berkorelasi dengan kondisi yang ada, alias mengadaada. Ada juga yang berharap banyak pada penginternasionalan Pertamina.

Berikut salah satu kutipan tulisan tersebut. Mungkinkah ada logo Pertamina di kaos Rooney atau Giggs saat membela MU? Mungkin dan bisa. Mungkinkah ada logo Pertamina di salah satu jet darat yang bertarung di ajang F1? Bisakah jadi sponsor MU itu dapat disebutkan bahwa Pertamina sedang menuju sebagai perusahaan kelas dunia? Bisa, walaupun baru satu aspek... Pertanyaannya, mungkinkah Pertamina mengikuti jejak perusahaan dunia tersebut dan (ehm) logonya bisa nongol di lacar kaca melalui aksi menawan seorang Rooney?

Tulisan ini merupakan pemenang pertama lomba dan berhak memboyong hadiah Rp 5 juta. Artikel berjudul Logo Pertamina di MU dan Formula 1 itu ditulis Robby Effendi dan dimuat di Harian Global, Medan.


MENJADI SIMBOL INDONESIA

Secara keseluruhan, tulisan-tulisan yang ikut lomba tahun lalu, menjadi semacam kaca pembesar, bisa juga dipandang sebagai cermin, sejauh mana ekspektasi masyarakat, yang sebagian di antaranya terepresentasikan dari kerja kolektif wartawan, terhadap keberlangsungan sebuah perusahaan milik bangsa bernama Pertamina. Mereka mempunyai pengharapan yang tinggi, berharap Pertamina bisa dikenal secara luas dan dengan demikian Pertamina bisa menjadi sebuah simbol tentang Indonesia.

Indonesia bukanlah sekedar Bali. Indonesia bisa terjelaskan melalui logo Pertamina itu sendiri. Pertaminalah yang menurut mereka seharusnya menjadi representasi Indonesia di dunia internasional, karena memang emungkinkan untuk itu. Mereka berharap banyak pada sepakbola, sayangnya di tingkat Asia saja sudah kandas, konon pula pemenang Piala Dunia, sehingga harapan itu pupus untuk sementara waktu.

Walau saya sendiri cenderung berpikir bahwa efektivitas keterkenalan bukanlah diukur dari sebuah iklan yang terpampang di bagian depan baju seorang pemain bola atau kap depan mobil balap, tetapi berbagai harapan tentang keinternasionalan Pertamina itu bisa dicapai dengan sebuah kerja keras. Ya, kerja keras adalah energi kita. Siapapun yang menciptakan tag iklan itu, memberi nuansa baru bagi pencitraan Pertamina.

Pertamina memang harus bekerja lebih keras menghadapi semua persaingan, ketika begitu banyak sekat regulasi yang telah dan akan dibuat yang pada gilirannya akan memarjinalkan peran Pertamina sebagai pemain utama bisnis migas di dalam negeri.

Lihatlah misalnya status Pertamina yang selama ini menjadi pemain tunggal dalam pendistribusian BBM bersubsidi di dalam negeri. Namun mulai Januari 2010 Pertamina tidak lagi sendirian, ada beberapa perusahaan pendamping yang juga menjual BBM bersubsidi. Baiklah, itu domainnya pemerintah, dan oleh karena itu harus dipandang sebagai sebuah upaya pemerintah memberikan yang terbaik untuk bangsa. Namun di mata masyarakat, hal ini hanya mungkin terjadi karena Pertamina dipandang tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik maka pemerintah menunjuk perusahaan lain.

Ini masalah persepsi. Setiap orang bisa punya pandangan berbeda, punya pendapat yang lain tentang sesuatu hal. Sama halnya seperti memandang sebuah mangkuk dari abad ke-14 peninggalan Dinasti Ming. Seorang kolektor ulung akan memandangnya sebuah mahakarya agung yang bernilai tinggi, sementara seorang ibu dari Toba Samosir mungkin memandangnya dari sisi manfaat dan bisa saja berpendapat masih lebih bagus mangkuk plastik di rumahnya.

Mustahil menyeragamkan pendapat masyarakat tentang sesuatu hal, tetapi justru inilah tantangannya. Pertamina harus terus bekerja keras meningkatkan citra. Membangun sendiri imej sebagai perusahaan kelas internasional, dalam upaya menjadi perusahaan kelas dunia.MP


FITRI ERIKA
Pemasaran BBM Retail Region I Medan

Read the full story

PERTAMINA LUNCURKAN PELUMAS BERKUALITAS TINGGI DI AUSTRALIA

10.27.2009 1 comments

PT.PERTAMINA (Persero) melalui Unit Bisnis Pelumas meluncurkan pelumas berkualitas tinggi untuk pasar Australia. Acara resmi peluncuran dilakukan oleh Ministry of Transpotation NSW, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina beserta Konjen RI di Wisma Negara Kosulat Jenderal Republik Indonesia di Sydney pada hari Jum'at 23 Oktober 2009. Segmen pelumas yang dipasarkan ke konsumen Australia meliputi segmen otomotif dan industri. Beberapa merek produksi pelumas adalah Fastron, Prima XP, Mediteran SX dll.

Pelumas Pertamina dengan tagline X'treme Power & Protektion (XP2), berdasarkan kualitas pelumas dibagi dalam 3 kelas yaitu Premium, Gold dan Silver yang disesuaikan dengan penggunaannya. Pelumas Pertamina dibuat dari campuran base oil (mineral dan fully synhetic) terbaik ditambah dengan aditif yang diproduksi oleh perusahaan kelas dunia seperti Lubrizol, Infenium, Chevron Oronite dll, sehingga menghasilkan pelumas kualitas tinggi dari API (Association des Constructeurs European d'Automobiles), Volvo, DaimlairChrysler, di sektor otomotif, serta sertifikat dari Komatsu, Niigata, Caterpillar, Wartsila, dll di segmen pelumas industri. Pasar Australia sangat menarik bagi PERTAMINA , selain karena jaraknya yang relatif dekat, memiliki nilai yang cukup prestigius karena termasuk negara "Barat". Kebutuhan pelumas Australia sekitar 550.000 KL/th. Sasaran pasar awal adalah segmen otomotif baik Top Tier maupun Mid Tier, dengan kebutuhan 260.000 KL (48% dari kebutuhan nasional). Jaringan pemasaran yang dibidik adalah independent garage, taxi pool, bus/truck pool, dan toko pengecer autoparts independen (non-chain).

Untuk tahun pertama, PERTAMINA menargetkan penjualan sekitar 3-5 container perbulan. Dengan perkiraan pertumbuhan bisnis 15-20 % pertahun, diharapkan pada tahun 2015 bisnis pelumas PERTAMINA di Australia sudah mencapai diatas 5.000 KL/tahun.

Dalam mendistribusikan pelumas dan melayani konsumen di Australia, Pertamina telah menunjuk satu Country Distributor, Offshor Lubricants Pty Ltd yang beralamat di 28 Bryant Street, Padstow NSW 2211 Australia. Saat ini Offshore Lubricants telah memasarkan Pelumas ke independent gerage, sehingga konsumen dapat memperoleh edukasi Pelumas, kegiatan promo dll dan tentu saja dengan harga yang kompetitif.

Pertamina sebagai produsen minyak dan gas yang telah berusia 52 tahun menjalankan bisnis yang terintegrasi dari eksplorasi dan produksi, pengolahan hingga pemasaran produk, baik dalam negeri maupun ke luar negeri. Di dalam negeri, Pertamina Pelumas merupakan market leader yang menguasai lebih dari 54%, sementara diluar Indonesia, Pertamina Pelumas sudah memasarkan ke Belgia, Pakistan UAE, Myanmar, Singapore, Taiwan dll. Ini menunjukkan kualitas Pelumas Pertamina sudah diakui oleh konsumen dunia.

Sydney, 23 Oktober 2009

* PT. PERTAMINA (Persero)
* Offshore Lubricants Pty. Ltd






Read the full story

Buah Transformasi, Pertamina Makin Kuat

9.05.2009 0 comments

Program Restrukturisasi Pertamina sejak 1994 begitu banyak kendala eksternal dan mindset kalangan internal perusahaan yang belum sepenuhnya menerima perubahan, yang mereka khawatirkan mengganggu zona kenyamanan yang mereka rasakan selama ini. Tetapi kemudian kendala itu satu-satu terpecahkan, dan Pertamina pun mempercepat gerak perubahannya melalui Program Transformasi Pertamina sejak 2006.

Sudah tiga tahun Transformasi berjalan. Program perubahan yang digelar melalui dua jalur, yaitu proyek terobosan (Breakthrough Project, BTP) dan perubahan budaya kinerja. Bahkan belakangan BTP semakin diarahkan mendukung Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP), maka muncul BTP RJPP 2008 dan sekarang BTP RJPP 2009.

Karena Agustus ini tepat tiga tahun perjalanan Transformasi Pertamina, maka WePe Edisi Agustus 2009 menurunkan warta utamanya mengenai hasil transformasi sebagai kelanjutan perubahan sebelumnya. Yang akan disajikan dalam 17 halaman warta utama adalah mengenai perkembangan beberapa program sukses dari semua direktorat.

Warta Utama, sebagai laporan utama WePe akan menurunkan mengenai catatan progress atau kemajuan Transformasi dalam tiga tahun terakhir. Transformasi adalah proses perubahan yang diperlukan oleh suatu korporasi untuk memposisikan diri agar lebih baik dalam menyikapi dan menjawab tantangan-tantangan bisnis baru, lingkungan usaha yang berubah secara cepat. Juga bagaimana mewujudkan keinginan-keinginan baru yang muncul dari dalam perusahaan.

Tolok ukur keberhasilan Transformasi Pertamina, setidaknya bisa dilihat dari bahwa program itu sukses sesuai workplan dan KPI yang ditetapkan. Kedua ada keberlanjutan program itu sehingga terlihat progresnya yang

semakin maju. Ketiga, bagaimana dampak kesuksesan program itu bagi sisi operasional, keuangan, dan citra perusahaan. Yang menjadi catatan dalam Warta Utama WePe Edisi Agustus 2009 ini tidak hanya berbicara tahun 2009 saja, tetapi juga keseluruhan dari proses awal tahun 2006 sampai periode April 2009. Kita tidak menghitung sampai Agustus 2009 agar genap tiga tahun, karena ketika tulisan ini diproses pada Juli 2009, dan yang datanya sudah valid adalah status per April 2009.

Seperti dikatakan oleh Koordinator Pelaksana Transformasi Helmy Said, bahwa yang dilihat dari keberhasilan Transformasi Pertamina adalah bagaimana proses dan bagaimana hasilnya. Sehingga dari kedua aspek itu akan terlihat kemajuan sejumlah program dalam Transformasi Pertamina.

Akhirulkalam mengenai Tiga Tahun Transformasi Pertamina semoga menjadi bukti bahwa perubahan Pertamina telah menunjukkan hasil. Memang belum semua apa yang kita inginkan tercapai dalam tiga tahun, tetapi kita harus melihat apa yang telah kita capai. Terimakasih, dan wassalaam.•NS



Read the full story

PERTAMINA - Bersaing secara Profesional

8.17.2009 1 comments

Pengantar Redaksi:
Pertamina ikut serta di acara International Indonesia Motor Show 2009, yang berlangsung 24 Juli hingga 2 Agustus 2009 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta. VP Pemasaran BBM Retail K. Denni Wisnuwardani memberikan penjelasan dalam konferensi pers dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Berikut petikannya yang sudah kami edit.

Apa manfaat Pertamina hadir dalam acara International Indonesia Motor Show 2009 ini?
Keikutsertaan Pertamina dalam acara ini adalah sebagai komitmen kami kepada para pengguna motor dan mobil di Indonesia, yang semuanya adalah pelanggan Pertamina. Kami berkomitmen tinggi untuk memberikan bahan bakar dengan kualitas yang terbaik kepada seluruh masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, di booth Pertamina ini kami memberikan penjelasan mengenai produk-produk Pertamina yang berkualitas dan juga ramah lingkungan, sesuai dengan tema pameran ini.

Saat ini kami lebih menonjolkan produkproduk bahan bakar yang ramah lingkungan. Hal ini sebagai antisipasi kedepannya , karena tentunya BBM fossil sudah akan semakin menipis cadangannya. Kita semua harus ingat bahwa kita masih mempunyai anak-cucu yang berhak menikmati juga BBM fossil. Oleh sebab itu, sudah saatnya kita mengembangkan energi alternatif, seperti energi biofuel, biogas, dll. Kita semua harus siap menghadapi hal tersebut, Pertamina pun sudah mempersiapkan diri dengan mengembangkan energy alternative seperti BioPertamax, dan BioSolar Bahkan saat ini di dunia sudah ada kendaraan berteknologi hybrid, yang tinggal kita tunggu kehadirannya di Indonesia.


Apakah keikutsertaan Pertamina di pemeran ini untuk meraih konsumen yang individu ataukah korporat?
Keikutsertaan kami disini adalah untuk meraih konsumen yang individu maupun korporat, karena bisa dibilang seluruh produk kami ini dipakai oleh yang punya motor dan mobil baik secara individu maupun perusahaan.

Bahkan untuk BBM fossil ini, banyak sekali produk turunannya yang dapat dipergunakan untuk berbagai hal seperti petrokimia sampai bahan baku untuk tekstil. Namun karena keterbatasan, kami tidak bisa menampilkannya di booth Pertamina, selain itu pameran ini pun identik dengan motor sehingga yang kami tampilkan sebagian besar produk-produk BBM fossil yang terkait dengan kendaraan bermotor.

Ke depan, mudahmudahan acara seperti pameran ini bisa menjadi suatu media untuk edukasi kepada teman-teman pelanggan, iapapun juga, baik individu dan korporat.


Bagaimana dengan produk-produk Pertamina yang ditampilkan di acara ini?
Kami saat ini sedang menggalakkan pemasaran Pertamax dan Pertamax Plus. Dilihat dari kacamata ekonomi, kami ‘kan tidak boleh menggunakan uang Pemerintah untuk subsidi sebanyak mungkin. Jadi pada saatnya nanti, Pemerintah tidak perlu dibebani oleh subsidi. Maka kami berusaha agar masyarakat sadar secara perlahan-lahan bahwa penggunaan BBM itu harus seefisien mungkin.

Sebab itu, kami mulai mengedukasi masyarakat untuk mempergunakan BBM yang lebih baik kualitasnya dan lebih ramah lingkungan. Kami berusaha menarik para pelanggan yang sebelumnya memakai BBM subsidi, untuk mencoba BBM yang tidak disubsidi, yang kualitasnya lebih baik.


Di lapangan, sering kita lihat SPBU Pertamina Pasti Pas yang berdekatan dengan SPBU Kompetitor, bahkan ada yang berdampingan atau berseberangan. Bagaimana kemampuan Pertamina dalam mengimbangi kompetitor ini?
Sejak tahun 2006 akhir, ketika pasar sektor hilir dibuka, Pertamina memang diberikan semacam sparring partner. Waktu itu Shell masuk, kemudian diikuti Petronas, dan sekarang ada Total juga.

Saat ini kami masih tetap menguasai jaringan SPBU hingga ke seluruh pelosok Indonesia. Pada awalnya, SPBU - SPBU itu menjadi outlet kami, karena dahulu Pertamina diberi tugas oleh Pemerintah untuk mendistribusikan BBM ke seluruh tanah air . Namun demikian dengan dibukanya pasar di sektor hilir, kompetitor kami juga membangun SPBU-SPBU di lokasilokasi yang besar yang strategis. Praktis, ini akan berdekatan dengan SPBU - SPBU Pertamina.

Jadi strategi kami adalah memberikan kenyamanan dan pelayanan yang lebih kepada pelanggan, hal ini tidak lain bertujuan supaya pelanggan tetap setia pada Pertamina. Dan juga kami memberikan produk-produk bahan bakar yang kualitasnya tidak kalah dibandingkan produk pesaing. Kami ingin bersaing dengan perusahaan kelas dunia dan ini yang harus kami hadapi secara profesional, baik dari segi kualitas, dari segi pelayanan, bahkan juga dari segi arsitektur bangunan SPBU-nya. Kalau harus head to head, akan kami lakukan dengan profesional.

Berkaitan dengan pengembangan SPBU Pertamina, tidak semena-mena ada tanah lalu langsung kami dirikan SPBU di tempat itu. Kami harus melihat kepentingan dari masyarakat di lokasi tersebut, di samping itu juga harus diperhatikan jarak antara SPBU Pertamina yang sudah ada, sehingga tidak boleh ada persaingan antar SPBU Pertamina sendiri.

Yang ingin kami tekankan adalah kami akan memberikan pelayanan yang lebih kepada pelanggan dan menjual bahan bakar yang berkualitas tinggi.• UHK



Read the full story

Pertamina Dipercaya Investor Kembangkan Usahanya

8.06.2009 0 comments

Pinjaman ini melambangkan kepercayaan dari bank-bank nasional maupun internasional bahwa Pertamina sebagai salah satu penggerak ekonomi nasional mampu untuk bergerak lebih maju. Dalam rangka meningkatkan kinerja pertumbuhan operasi, Pertamina terus mengembangkan bisnisnya dengan melakukan berbagai investasi. Pembiayaan atas investasi ini dilakukan dengan menggunakan dana internal maupun pinjaman eksternal. Salah satu skema pendanaan eksternal yang saat ini baru diselesaikan adalah corporate loan dengan berbasis club deal. Pertamina akan menggunakan fasilitas pinjaman terutama untuk pembiayaan investasi perusahaan.

Proses peminjaman ini dimulai sejak akhir Maret 2009 dan mengalami oversubsribe sebesar 650 juta dólar AS juta, dan untuk rupiah sebesar 4,5 triliun. Pertamina memutuskan pada tahap ini hanya mengambil pinjaman sebesar 400 juta dolar AS dan Rp 3 triliun yang diberikan oleh 18 bank domestik dan luar negeri dengan tenor tiga tahun.

"Ini adalah sebuah awal bagi Pertamina untuk melangkah menjadi perusahaan minyak dan gas nasional kelas dunia. Pertamina dapat menjadi role model bagi perusahaan Indonesia lainnya. Saya berharap program-program baik yang telah maupun yang tengah dijalankan dapat diteruskan secara berkesinambungan," ujar Menteri Negara BUMN RI Sofyan Djalil dalam sambutannya.

Menurut Sofyan, adanya kepercayaan dari investor, opini masyarakat akan terbentuk dan membuktikan bahwa Pertamina mampu untuk bergerak lebih maju karena mendapatkan kepercayaan dari para bank domestik dan bank Internasional.

"Kami yakin fasilitas pinjaman ini dapat mempercepat kegiatan ekspansi dan pengembangan usaha Pertamina ke depan, sesuai dengan sasaran strategis yang telah ditetapkan perseroan," kata Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan usai penandatanganan di Lantai M Gedung Utama Kantor Pusat Pertamina Jakarta, Jumat (31/7).

Bagi Karen melalui penandatanganan ini membuktikan bahwa Pertamina adalah pemain yang dominan dan yang paling terintegrasi dalam industri minyak dan gas di Indonesia. Selain itu, penandatanganan ini sebagai bukti komitmen Pertamina sebagai penyedia energi bagi seluruh masyarakat Indonesia yang memiliki profil finansial yang kuat, serta keahlian yang terbukti dan teruji dari sejarah operasional yang panjang.

Mandated Banks untuk fasilitas peminjaman sebesar 400 juta dolar AS ini adalah Citibank N.A.Jakarta Branch ("Citi"), PT ANZ Panin Bank, Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd Jakarta Branch, BNP Paribas, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk, Sumitomo Mitsui Banking Corporation, Singapore Branch, PT Bank Central Asia Tbk., Overseas-Chinese Banking Corporation Limited, PT Bank Mizuho Indonesia, PT Bank Pan Indonesia, Tbk, The Hongkong and Shanghai Banking Corporate Limited, Chinatrust Commercial Bank Co. Ltd, Singapore Branch, CALYON, Singapore Branch, CIMB Bank Berhad, Singapore Branch, Natixis, Singapore Branch, dan Qatar National Bank SAQ, Singapore Branch.

Pertamina menunjuk Citibank sebagai Coordinating Bank untuk bekerjasama dengan Mandated Banks lainnya sehubungan dengan negosiasi dan dokumentasi fasilitas pinjaman USD.

Transaksi ini merupakan landmark deal karena merupakan fasilitas pinjaman US Dollar yang pertama dan terbesar yang diberikan kepada perusahaan Indonesia di tengah krisis global saat ini. Jumlah partisipasi sebesar lebih dari dua kali lipat memberikan kesempatan Pertamina untuk menaikkan jumlah plafond transaksi ini menjadi sebesar 400 juta US Dollar.

Pada saat yang sama, Pertamina juga menerima fasilitas Pinjaman sebesar Rp 3 triliun dari empat bank nasional, yaitu Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI dan Bank BCA. Dana yang didapat dari pinjaman Rupiah akan digunakan untuk memperkuat modal kerja perusahaan.

Dalam kesempatan ini, Pertamina juga telah menunjuk facility agents yang akan membantu adminsitrasi keuangan antara Pertamina dengan para kreditur. Dalam hal ini institusi yang ditunjuk adalah Bank of Tokyo -Mitsubishi UFJ, ltd (BTMU) Jakarta Branch untuk fasilitas USD dan Bank Mandiri untuk fasilitas Rupiah.

Beberapa dasar pemikiran investasi yang menjadi bahan pertimbangan bankbank internasional dan nasional terhadap Pertamina, mencakup dinamika industri energi regional yang potensial, pasar domestik Indonesia yang terus tumbuh, serta komitmen dan dukungan pemerintah.

Waktu yang relatif singkat dalam menyelesaikan transaksi ini melambangkan keyakinan dari bank-bank nasional maupun internasional yang terlibat akan pentingnya pertumbuhan dan peningkatan kinerja dari Pertamina sebagai perusahaan minyak dan gas nasional yang merupakan salah satu penggerak ekonomi nasional. MEDIA PERTAMINA.
Read the full story

Pertamina Bangun Refinery Unit Baru

8.01.2009 1 comments

Kabar pembangunan kilang baru ini sih udah terdengar lama mengusul kabar burung penutupan Pertamina UP 3 atau sekarang Pertamina Refinery Unit 3. Tetapi dimedia massa baru dikabarkan beberapa hari terakhir ini. Memang sih, penandatangan Akte Pendirian kilang baru yang dibernama PT. Banten Bay Refinery ini baru dilaksanakan pada kamis lalu (29/0709). Refinery baru ini merupakan perusahaan patungan antara PT. Pertamina (Persero) (40%) dengan Oil Refining Industries Development Company (ORIDC), Iran (40%) dan Petrofield, Malaysia (20%). Tetapi ada kabar juga perusahaan asal Korea Selatan ikut bergabung, kalau bergabung ya mesti berbagi saham lagi. Yach, mudah-mudah sebagai tuan rumah pertamina bisa memiliki saham mayoritas. Right?

Perusahaan ini renacananya sih akan melakukan pembangunan kilang minyak di Bojonegara, Banten dengan kapasitas 150.000 barel per hari pada tahap pertama. Kilang direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2014, target kapasitasnya katanya 300.000 barel perhari. Kalau ini sudah beroperasi dengan 300 MBSD berarti menjadi refinery terbesar ke 2 setelah Refinery Pertamina 4 Cilacap dengan kapasitas 348 MBSD.

"Rencana pembangunan kilang ini merupakan salah satu langkah Pertamina untuk menjamin ketahanan suplai BBM Nasional. Untuk itu, kami berharap mendapat dukungan dari pihak-pihak yang terkait," ujar Direktur Pengolahan PT Pertamina (Persero), Rukmi Hadihartini dalam siaran pers diberbagai media.

Rencana pembangunan kilang berkapasitas 300.000 barel per hari itu sudah direncanakan sejak beberapa tahun lalu. Pada tahap awal, Kilang Banten akan dibangun dengan kapasitas 150.000 barel per hari yang mengolah minyak mentah jenis Iranian Extra Heavy Crude sebesar 50 persen dan Iranian Heavy Crude 50 persen. Seluruh minyak yang akan diolah ini dipasok ORIDC.

Pembangunan kilang tahap pertama tersebut ditargetkan mulai berlangsung tahun 2010 dengan jadwal produksi tahun 2014. Produk kilang yang didesain menghasilkan gasoline ON 90/95, diesel oil, fuel oil, avtur, elpiji, coke, sulfur, dan petrokimia akan diprioritaskan antara 70-100 persen buat pasar domestik dan sisanya diekspor sesuai standar Euro IV.

Kilang yang dibangun di atas lahan milik PT Pelindo II di Bojanegara, Banten itu mendapat pasokan gas 110 MMSCFD dari PT PGN Tbk dan PT BAGS dan listrik sebesar lima MW dari PT PLN.




Read the full story

Terobosan Pertamina Plaju

5.25.2009 2 comments

Refinery Unit (RU) III Plaju membuat terobosan baru dengan menciptakan Bahan Bakar Khusus (BBK) baru jenis racing fuel. Menurut GM RU III Syofrinaldy pada acara field test produk racing fuel baru-baru ini, tertariknya Pertamina RU III menciptakan produk khusus ini, karena pada dasarnya selama ini kilang RU III menghasilkan berbagai jenis produk yang memanfaatkan nilai guna dari crude oil. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, bahan bakar ini memiliki potensi nilai pasar yang tinggi, ujar Syofrinaldy. Apalagi para pembalap Indonesia selama ini masih menggunakan bahan bakar produk luar dengan harga cukup tinggi.

Syofrinaldy menambahkan, racing fuel ini merupakan bahan bakar khusus dengan kadar oktan tinggi se-hingga mampu memberikan tenaga dan akselerasi yang maksimal yang dibutuhkan dalam olah raga balap. Formula khusus ini sudah memenuhi requirement sebagai bahan bakar racing berkualitas sesuai aturan Federasi Internasional Motorcycle.

Dari sisi pemasaran, GM Pemasaran BBM Retail Region II Hasto Wibowo menyatakan bahwa pengembangan formula racing fuel terus dilakukan sehingga ketika diluncurkan sudah sesuai dengan keinginan pengguna bahan bakar ini.

Product field test dilakukan oleh pembalap nasional Rifat Sungkar dengan menggunakan mobil Suzuki Aerio di kawasan Stadion Gelora Sriwijaya Jaka Baring, Palembang.

Sesi pertama, kendaraan yang dikemudikan Rifat menggunakan racing fuel Candidate 1 (Polymer) yang memiliki kadar oktan ren-dah. Sesi kedua, mobil ter-sebut menggunakan racing fuel Candidate 3 dengan kadar oktan tinggi (Alkylate).

Kita puas dengan produk ini. Saya yakin produk ini bisa segera dipasarkan karena sudah memenuhi requirement untuk high performance level, tutur Rifat.

Menurut Sales Representative BBM Retail Rayon IV Sumsel, Daniel Alhabsy, rencananya racing fuel akan diproduksi dengan dua grade. Grade A ditujukan untuk komunitas balap profesional, dan grade B untuk komunitas racing life style.

Sebelumnya, pada Desember 2008 telah diadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan kedua komunitas balap tersebut untuk mengetahui keinginan pangsa pasar produk ini.

Baca juga 5 artikel herip sebelumnya dibawahi ini:
Kampung Ku Magetan Ku
Dampak dan Kesinambungan OPI
Mempercepat Kinerja Firefox
Pertamina Bernafas Kembali
Blog Cepu Segera Siap Beroperasi






Read the full story

Pertamina Bernafas Kembali

5.15.2009 4 comments

Sudah 5 hari ini herip ikut andil dalam perbaikan furnace PT Pertamina RU3 Plaju (yach,walaupun kontribusinya sekedar mandorisasi dan tukang midar-mider atau bisa disebut juga gak jelas kontribusinya, hhehhe) akhinya pekerjaan itu selesai juga dan jantung Pertamina bisa berdetak kembali. Mudah2an beroperasinya kembali CDU 3 Pertamina Ru3 Plaju hari ini tidak ada masalah dan kendala. Soal peran gak jelas, it's never mindd, namanya juga belajar. Sebenarnya pekerjaannya udah 7 hari ini tapi hari weekend kemarin gak ada jadwal masuk jadi ya herip gak mau masuk, ya akhir gak masuk aja.

Perbaikan yang dilaksanakan oleh kontraktor “langganan” Pertamina itu membuat herip dapat banyak banget ne ilmu, mulai dari furnace masih puanas sampai furnace dikondisikan untuk segera dingin sampai dengan pekerjaan perbaikan berlangsung dan hari ini sudah selesai dan masih banyak lagi. Oh ya, ngemeng-ngemeng soal berlangganan, herip sebut seperti itu karena memang itu-itulah kontraktor yang memenangkan tender tersebut, tapi tidak mutlak dia (kontraktor, red)terus, tapi yang jelas ketika dia kalah ditender A, bisa di pastikan dia menang ditender B atau C atau D, Gitulah. Namanya juga kontraktor supported by preman. Hhuehehehe. Pekerja kontraktor yang kerjain furnace itu termasuk preman juga, asal pukul, asal jadi, asal cepet selesai, asal cepet gajian dan muasih banyak asal-asal lainnya yang selalu merugikan Pertamina. Pribadi menilai tidak ada yang qualified pekerjanya. Cara ikat baut pada flange aja pada ngacau.

Waduh, diatas kok jadi cerita begitu yak? Gak apalah sekedar info aja. Tapi masih ada sedikit joke ne, ini q dapat dari operator kompresor dari Atlas Copco yang bermarkas besar di Belgia, Buka cabang di Singapore dan masih buka kios di Jakarta. Waktu kita bercerita panjang lebar berbagi informasi dan saya belajar pengalaman dari dia mengenai dunia perminyakan yang ada di Indonesia Khususnya pada perusahaan asing yang pernah dia singgahi. Ia menyinggung masalah lantai, berkatalah dia : “Kalau di perusahaan asing tidak ada lantai yang terkena ceceran minyak setitikpun, tapi kalau disini (RU3, red) tidak ada setitikpun lantai yang lolos dari ceceran minyak”. Hhuahahha (tertawa). Gak lucu ya sob, gak apalah sekedar iklan aja. inilah tugasnya OPI. Berjuanglah OPI. Go Go OPI.

Sudah cukup info dan iklannya. Ada pengalaman lain lagi yang
herip dapat. Saking seringnya saya di TKP (Furnece yang rusak, red) dan mengintili, (bahasa mana tu? “Maksudnya membuntuti”) pihak inspeksi, saya dipercayakan untuk melakukan pekerjaannya mulai dari melihat, memantau melakukan pengukuran-pengukuran dan memastikan bahwa pekerjaan pada bagian tersebut telah sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh inspeksi sesungguhnya tersebut. Sayangnya pekerjaan tersebut herip lakukan saat inspeksi sedang tidak ada di TKP, ibaratnya ban serep inspeksi. Sampai2 saya ditawari oleh pimpinan inspeksi untuk bergabung dengan timnya, tapi mungkin itu hanya guyon aja yak, gak mungkinlah masuk jadi inspeksi begitu aja.

Sob, capek ne. Ceritanya kok banyak banget, udahan dulu yah, udah siang ne, belum sarapan, mau sarapan dulu.
herip kira cukup sekian dan terima kasih atas perhatiannya pada postingan yang gak jelas ini. Salam sukses untuk yang menyempatkan membacanya dan sekiranya bisa meningglkan komentar pada halaman ini untuk bisa saya tanggapi.



Read the full story

Blok Cepu Segera Siap Beroperasi

5.11.2009 3 comments

Pertamina Sabtu ini melakukan uji coba operasionalisasi jalur pipa distribusi minyak Blok Cepu sepanjang 46 km dari lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, Desa Mojodelik, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, hingga lapangan Mudi di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Tuban, Jawa Timur.

"Uji coba pipa sudah mulai dilakukan, tetapi dengan air," kata Pejabat Sementara (PJS) Direktur Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Cepu Kunto Wibisono kepada ANTARA, Sabtu.

Direktur Operasi Pertamina EP Cepu ini menambahkan, perbaikan pipanisasi minyak Blok Cepu enam inchi yang sempat terganggu akibat tersumbat batu tersebut, sudah rampung.

Perbaikan dilakukan dengan cara membongkar kembali pipa dan memotongnya untuk kemudian mengeluarkan batu yang ada dalam pipa yang selama ini menghambat aliran air ketika pada uji coba pertama, dua bulan lalu, dilakukan.

"Kalau melihat batu yang ada di dalam pipa sebesar kepala orang, jelas disengaja," jelasnya.

Sejauh ini, proses uji coba jalur pipa dengan air sudah aman sehingga bisa dimanfaatkan untuk mendistribusikan minyak Blok Cepu.

Tetapi, kepastian pemanfaatan jalur pipa tersebut tetap menunggu sertifikasi Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas).

Dia menjelaskan, pipa enam inchi yang dimanfaatkan mendistribusikan produksi minyak Blok Cepu dari lapangan Banyu Urip dari empat buah buah sumur itu mampu mendistribusikan minyak sedikitnya 12.000 barel per hari, yang 10 ribu barel per hari diantaranya dibeli Pertamina.

Sementara harga akan mengikuti harga pasar yang penentuannya dilakukan tim Ind Crude Proise (ICP) multi departemen yang terdiri dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, BP Migas dan Departemen Keuangan.

"Kalau harga kurang lebihnya mengikuti harga pasaran minyak dunia," katanya.

Kunto memperkirakan, produksi awal minyak Blok Cepu, mulai bisa berjalan berkisar Juni-Juli, namun karena pembangunan kilang mini diperkirakan baru rampung Oktober, maka produksi awal pada Juni atau Juli tidak langsung 20.000 barel per hari.

"Paling tidak produksi minyak Blok Cepu sudah bisa dimulai, meskipun tidak langsung 20.000 barel," tambahnya.

Sementara itu, Bupati Bojonegoro Suyotono menyatakan, Pemkab berusaha ikut mengelola minyak Blok Cepu dengan memanfaatkan kilang mini milik Humpuss Patragas yang ada di Cepu, Blora, Jawa Tengah.

Kilang mini milik Tommy Soeharto tersebut kapasitasnya mencapai 10 ribu barel per hari. (*)

Sumber www.okezone.com

Read the full story

Furnace CDU3 Pertamina Refinery Plaju Pecah

5.09.2009 6 comments

Kemarin, kegiatan operasi produksi refinery di CDU 3 PT. Pertamina Refinery Unit 3 Plaju terhenti total pada pagi hari, dikarenakan tube pada furnace F2C2 pecah (Yach, Pertamina RU 3 terluka lagi). Sebelumnya, beberapa bulan yang lalu furnace CDU 4 PT. Pertamina Refinery Unit 3 Plaju mengalami hal yang sama,ada kerusakan sehingga harus di stop juga dikarenakan terjadi bocoran pada header tube F1C2. Wah wah wah, belum ada setahun kok udah emergency stop melulu, bisa-bisa tempat untuk mengais rupiah empunya herip ini bener-bener ditutup sama direksi pertamina ni.(Hiks…..). Tapi masih ada OPI, Go Go OPI. Jadi tambah banyak nie beban OPI. Tapi demi pertamina, demi kelasungsungan hidup orang se-Indonesia, OPI harus Bisa.

Oya.Awal terdengar beritanya sih pas pagi harinya, waktu ada safety talk rutin dua mingguan di bagian empunya herip ditempatkan (NRE PEM-1 JPK, red). Nah loh, singkatan apa itu.?hhehehe. Terdengar percakapan antara Ka. PEM 1 dengan seseorang yang berbicara via HT, terdengar bahwa ka. PEM 1 di tunggu kedatangannya karena rapat emergency untuk stop CDU 3 sudah akan dimulai. Sebenernya sih, empunya herip bukannya mau nguping tapi saat itu empunya herip memang sedang duduk didekat Bpk Edi Sembiring selaku Ka. Pem.

Setelah acara safety talk berakhir, langsung aja nie meluncur kelapangan, mengecek keadaan CDU 3, ternyata oh ternyata memang benar kabar itu, CDU 3 stop.
Begitu bejibun orang-orang penting Refenery Unit 3 di CDU 3 itu, mulai dari bagian atas sampai paling bawah, bagian samping kanan sampai samping kiri.(Wew, kaya PBB aja samping kanan, samping kiri).

Tapi begitulah keadaannya, saat saya check, tube-tube di furnace CDU 3 tersebut memang pecah, terlihat lewat peep hole furnace ada tube yang menyala dan terlihat kondisi tube pada sagging semua (fiuh). Menurut informasi yang didapat herip keadaan yang seperti itu dikarenaka furnace tersebut tersebut mengalami over heating sehingga struktur-struktur tube tidak kuat pada kondisi diatas batas kemampuannya (bayangkan aja waktu over heating itu temperaturnya sekitar 450 derajat celcius). Teman-teman sebangsa dan setanah air, doakan semoga dalam 5 hari perbaikannya bisa cepet selesai dan tidak ada kendala sehingga pasokan BBM tetap lancar.
Read the full story

Direktur Utama Pertamina Terima Penghargaan dari Muri

5.08.2009 3 comments

Direkur Utama PT Pertamina, Karen Agustiawan, mendapat penghargaan dari MURI sebagai Wanita Pertama yang Menduduki Jabatan Direktur Utama Pertamina. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Direktur MURI, di Bentara Budaya, jakarta , Kamis, pukul 11.00 WIB. Pada kesempatan tersebut, Direktur Utama Pertamina diwakili oleh VP Komunikasi Korporat Pertamina, Anang Rizkani Noor. "Pertamina berterima kasih atas perhatian yang diberikan oleh MURI kepada Direktur Utamanya sebagai Wanita Pertama yang Menduduki Jabatan Direktur Utama Pertamina. Dipegangnya jabatan tertinggi di Pertamina oleh wanita ini, menunjukkan bahwa di Pertamina, gender tidak membedakan kesempatan berprestasi di Pertamina." ujar Anang.

Pertamina sudah tidak asing lagi dengan penghargaan-penghargaan dari MURI, penghargaan MURI yang pernah diterima Pertamina sebelumnya meliputi : penggantian oli dengan menggunakan Fastron Sintetis 10w-40 pada seratus lima puluh mobil mobil Xenia dalam waktu yang sama di Bali (2006), Enduro Racing test 50 jam nonstop di Sentul (2006), Penghargaan untuk Pelumas Enduro 4T untuk kegiatan "Ganti Oli Dengan Peserta Terbanyak" (2007), Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) milik Pertamina di Depot Elpiji Tanjung Priok sebagai stasiun pengisian LPG terbesar di dunia (2009), dan lain-lain.

Demikanlah sedikit informasi dari herip.co.cc yang sumbernya diambil dari website corporate pertamina, www.pertamina.com
Read the full story

IPS Celebrates 35 Years in Indonesia

11.30.2008 0 comments

- New office helps power business and daily life in Indonesia -
NOVEMBER 28, 2008/SINGAPORE - Invensys Process Systems (IPS), a global technology, software and consulting firm, today affirmed its commitment to Indonesia’s growing power, oil and gas industries with the opening of a new office in Jakarta that doubles and integrates the company’s sales, marketing, technical support and engineering forces in Indonesia.
Having secured major projects with several of Indonesia’s companies to automate power plants, refineries and oil and gas production plants, IPS has steadily increased its business operations in Indonesia over the last 35 years. This expansion will further enhance the company’s ability to provide effective solutions and services to support energy and utilities infrastructure to its growing client roster.
The emergence of new and upgraded power and production plants will improve the daily lives of Indonesians, where a significant portion of the world’s fourth most populous country still lives without electricity. The automation solutions IPS will provide to many of these power and production plants will also support Indonesia’s “10,000MW Crash Program,” a larger effort by the Indonesian government to ease the national power shortage by expanding Indonesia’s power generation capacity to 10,000MW by 2010.
While Indonesia works to address a projected 10 percent annual increase in power demand over the next six years, IPS will help address the issue through efficient power solutions.
“Our continuing diversification, as well as our expanding client network and new products and solutions for new industries, demonstrates our commitment to meeting Indonesia’s growing infrastructure needs,” said Mr. Lawrence Wee, President for IPS, Asia Pacific. “With the new capabilities in our new Jakarta office, IPS will develop and grow our operations in Indonesia, positioning ourselves for long-term, sustainable business growth in the automation market and strengthening our position as global industry leader.”
With 00 years of experience in process automation, IPS will continue developing and growing its Jakarta operations in line with Indonesia’s burgeoning energy and utility infrastructure demands. Some of IPS’ Indonesian customers include PT Pertamina Dumai Refinery, one of the country’s largest refinery with a capacity of 120 kbpd PT Kaltim Parna Industri, the largest ammonia producer in Indonesia; and PT Pupuk Sriwidjaja, the country’s second largest fertilizer plant.
As companies worldwide face rising energy, raw material and production costs, IPS solutions will help its clients improve energy efficiency, cost-competitiveness, safety and overall productivity. Amid growing concerns about global warming and climate change, IPS’ commitment to integrated energy and carbon management solutions also helps clients reduce carbon and greenhouse gas emissions, as well as energy costs.
Globally, IPS enables 70 percent of the world’s LNG production, 24 percent of its electricity production, 24 percent of its chemical production and 37 percent of its nuclear production – providing fuel, energy, light, power and healthcare to millions of people across 60 countries at 50,000 locations worldwide. Perennially recognized for its industry-leading performance, IPS was crowned 2008 Asia Pacific Safety Systems Company of the Year for worldwide penetration as the undisputed market leader in safety and critical control by Frost & Sullivan. Additionally, the company’s successful asset performance optimization solution was recently awarded the Asian Power Award for the Most Innovative Power Technology of the Year 2008.
About IPS (Invensys Process Systems)
Invensys Process Systems (IPS), headquartered in Plano, Texas, is a global technology, software and consulting firm leading significant change in process manufacturing, plant optimization, business operations and enterprise performance. IPS clients are some of the world’s most important industrial organizations — companies that operate large oil refineries; plants that process chemicals, gas, LNG, power, pharmaceutical and minerals; and pulp and paper mills. IPS solutions, used at over 50,000 locations across the globe, include field devices and controls from Foxboro® and Triconex®, advanced applications from SimSci-Esscor™, operations management from Avantis®, and the world’s first truly open enterprise control system, InFusion™.
The company’s nearly 7,000 employees integrate these capabilities to create solutions that impact and increase efficiency, boost productivity, and accelerate performance. These results help industrial companies run safer, operate more efficiently, and extract useful knowledge from their operations to make faster, better decisions. To learn more about IPS visit www.ips.invensys.com.
In Asia Pacific, IPS serves more than 2,400 customers across 21 countries in 10 major industries, providing Safety and Automation Solutions, Manufacturing Operations and Optimization Software, and Plant-to-Business Intelligence Solutions.
The Invensys Group (www.invensys.com) is headquartered in London and is listed on the London Stock Exchange (ISYS.L), with approximately 25,000 employees working in 60 countries.

Read the full story

Berharap dari Restrukturisasi Pertamina

11.07.2008 0 comments

Peran Pertamina dalam perekonomian Indonesia cukup strategis selama ini mengingat peranan migas sangat penting dalam APBN Indonesia sejak kemerdekaan. Bahan bakar minyak sudah lebih dari 30 tahun menjadi komoditas penting yang banyak memengaruhi perekonomian Indonesia.' Minyak pernah memberikan rezeki nomplok bagi Indonesia sehingga pemerintah Orde Baru dapat membangun dengan mudah pada 1970-an hingga awal 1980-an, saat harga minyak meroket hingga menembus US$40 untuk setiap barel nya.
Demikian juga BBM, pernah hampir memelesetkan ekonomi Indonesia pada pertengahan 1980-an.
Jatuhnya harga minyak telah membuat penerimaan negara berkurang tajam sehingga mengancam keberlanjutan pembangunan ekonomi.
Sehingga pemerintah harus melakukan deregulasi di berbagai sektor pada saat itu, termasuk sektor keuangan untuk menggalang dana bagi pembiayaan pembangunan ekonomi Indonesia.
Demikian juga pada saat krisis ekonomi ataupun setelahnya, peran BBM dalam perekonomian kembali menjadi sangat strategis lagimeskipun saat ini dalam konteks berbeda. Jatuhnya rupiah dan naiknya harga BBM justru mengancam ekonomi Indonesia.
Subsidi BBM melesat tajam, sementara itu penerimaan minyak meskipun naik, karena besarnya subsidi yang harus dibayar peme rintah, memberatkan APBN. Oleh karena itu, minyak kembali menjadi fokus penting dalam kebijakan ekonomi Indonesia.
BBM sudah menjadi komoditas yang sarat dengan nuansa politik akhir-akhir ini. Dengan demikian, Pertamina yang mengurus BBM tentu saja sarat dengan berbagai benturan kepentingan. Karena selain nilai aset yang dikelolanya besar, juga karena mengurus BBM yang menjadi sorotan banyak pihak.
Apalagi harga BBM akhir-akhir ini sangat dinamis, berfluktuasi tajam, bahkan sempat tembus US$70 untuk tiap barelnya. Sehingga tidak, mengherankan jika Pertamina menjadi bola panas dan siapa pun yang menjadi orang nomor satu di sana akan banyak disorot dan juga kerjanya dikritik. Apalagi jika. kinerjanya tidak seperti yang diharapkan.
Pergantian Direktur Utama Pertamina serta jajarannya, kemarin, tentu saja mendapatkan sorotan besar dari masyarakat. Apalagi Presiden pernah menyampaikan keinginannya untuk merestrukturisasi Pertamina sehingga spekulasi pergantian pimpinan Pertamina sudah diantisipasi masyarakat luas.
Meskipun demikian, ten tu saja spekulasi tetap muncul dengan adanya pergantian tersebut. Apakah pergantian benar-benar akan membawa perbaikan sehingga restrukturisasi Pertamina dapat dilaksanakan dan kinerjanya akan membaik?
Dengan demikian harapan bahwa Pertamina bisa menjadi pemain global yang andal sekelas Petronas akan terealisasi.
KINERJA Pertamina dilihat dari sisi rentabili tasnya sebenarnya tidaklah buruk. Namun juga harus diingat, Pertamina masih memiliki, monopoli power tahun 2004. Pada tahun itu pun Pertamina diharapkan dapat menyetor ke APBN sekitar Rp12 triliun, demikian juga keuntungannya juga besar pada 2005. Namun tampaknya, khusus untuk Pertamina, kinerjanya tidak hanya dilihat dari profitabilitasnya, ada faktor lain yang menjadi pertimbangan kinerjanya.
Ada beberapa catatan yang perlu kita garis bawahi, khususnya terkait dengan kinerja Pertamina. Jelas bahwa adanya kelangkaan BBM yang terjadi pada tahun 2005 yang lalu bahkan sampai kini kadang-kadang juga masih terjadi di beberapa daerah bukan prestasi yang dapat dibanggakan oleh Pertamina, meskipun kesalahan tidak seluruhnya dapat ditimpakan kepada Pertamina.
Namun demikian, Pertamina tidak dapat lepas tangan untuk kasus ini. Demikian juga krisis keuangan yang dialaminya pada masa lalu, permasalahan seperti kasus di Blok Cepu ataupun turunnya eksplorasi BBM akhir-akhir ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dari kurangnya kemampuan Pertamina dalam mengelola bisnisnya.
Meskipun peranan pemerintah juga besar. Itu semua membuat Pertamina yang besar, kaya, daft memiliki potensi yang besar untuk berkembang tidak dapat memanfaatkan potensinya dengan baik. Sehingga eksplorasi migas di Indonesia semakin berkurang, demikian juga Pertamina sebagai badan usaha juga ketinggalan jika dibandingkan dengan perusahaan sejenis di negara tetangga.
Jelas itu semua membuat kita prihatin melihat perkembangan persero itu. Sementara itu, di Malaysia, Petronas berjaya. Ada apa dengan Pertamina?
Berbagai pertanyaan ada di benak kita, sehingga banyak di antara kita yang juga bertanya bagaimana masa depan Pertamina? Padahal Pertamina sudah menjadi persero serta memiliki aset besar serta ladang migas yang dapat diolahnya (di Tanah Air saja) juga sangat besar.
Sayang sekali jika Pertamina tidak dapat memanfaatkan semua yang dimilikinya dengan baik hanya karena ketidakmampuan manajemennya. Oleh karena itu pergantian manajemen agar dapat memperbaiki Pertamina memang perlu dilakukan.
Apalagi Pertamina setelah menjadi persero tentu saja tidak bisa lagi berlindung kepada pemerintah jika menghadapi masalah, termasuk masalah keuangannya. Graduation Pertamina menjadi persero mestinya dapat membuat Pertamina meningkat kinerjanya karena memiliki otonomi yang lebih besar dalam mengelola perusahaannya. Campur tangan pemerintah mestinya sudah tidak ada, setidaknya minimal.
Dengan demikian Pertamina mestinya dapat mentransformasi dirinya dari BUMN yang besar, lamban, birokratis, sehingga tidak efisien, menjadi BUMN yang sehat, efisien dan kuat bukan saja di pasar domestik, melainkan juga di pasar global.
Tantangan tersebut menjadi semakin besar selain karena pasar bebas juga akan munculnya semakin banyak pesaing Pertamina di pasar. Oleh karena itu, mau tidak mau Pertamina harus melakukan transformasi jika tidak ingin menghadapi masalah yang semakin berat. Apalagi pasar BBM sekarang juga semakin dinamis.
Oleh karena itu pemerintah segera mengambil tindakan, merestrukturisasi Pertamina, jangan biarkan Pertamina semakin kerdil, lemah, tidak memiliki daya saing yang tinggi. Kita harus memberi kesempatan kepada Pertamina untuk segera merestrukturisasi dirinya, aset ataupun bisnis yang bukan menjadi bisnis intinya dan ataupun yang membebani keuangan Pertamina perlu dikeluarkan dari Pertamina. Demikian juga perlu diambil keputusan segera terhadap aset yang menganggur. Sehingga Pertamina dapat menjadi BUMN yang sehat, kuat, dan efisien berkelas dunia.
Untuk itu dukungan pemerintah mutlak diperlukan agar proses transformasi dapat berjalan dengan lancar. Sekarang sebenarnya sudah agak terlambat untuk merestrukturisasi Pertamina, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Pergantian direksi Pertamina bisa menjadi momentum yang baik bagi perkembangan Pertamina ke depan. Restrukturisasi Pertamina memang perlu dilakukan agar Pertamina bisa menjadi pemain global dalam bisnisnya. Untuk itu pemerintah perlu memberikan dukungan dan juga lingkungan yang diperlukan agar supaya kesalahan yang selama ini terjadi di BUMN kita ini tidak terulang lagi. Pertamina yang sejak dulu menjadi 'sapi perah' harus dihentikan, demikian juga berbagai kepentingan bisnis yang banyak menyangkut di Pertamina dari semua pihak yang dapat merugikan Pertamina harus dihentikan. Biarkan Pertamina berkembang menjadi BUMN yang berkelas dunia. Kita mungkin perlu belajar dari pengalaman Petronas yang telah berhasil menjadi pemain global di bisnisnya.

Read the full story

PT. Pertamina Refinery 3 Plaju

9.26.2008 0 comments


Awal ditemukannya minyak mentah di Sumatera Selatan pada zaman kejayaan Sriwijaya pada abad ke-9 SM. Sedangkan sejarah permigasan Indonesia sudah berusia 118 tahun.

Kalaulah kita saat ini menyimak lagi roadmap migas Indonesia tidak hanya sekedar “membaca” sejarah, tetapi untuk meretrospeksi, bahwa minyak dan gas bumi di Indonesia sarat dengan perjuangan yang heroik. Sehingga kalaulah sekarang kita berada pada zaman Pertamina yang terus berubah, tidak elok rasanya kalau kita melupakan nuansa perjuangan itu.

Rentetan peristiwa perkembangan pembangunan Kilang di lokasi Unit Pengolahan (UP) III meliputi masa-masa :

* 1907
Awal pembangunan dan didirikannya kilang minyak di Plaju oleh SHELL hingga mencapai kapasitas 110 MBSD
* 1933
Kilang S. Gerong didirikan oleh STANVAC with the capacity of 70 MBSD
* 1965
Kilang Plaju dengan kapasitas 110 MBSD dibeli dari SHELL
* 1970
Kilang S.Gerong dengan kapasitas 70 MBSD dibeli dari STANVAC
* 1971
Pembangungan kilang Polypropylene dengan kapasitas 20.000 ton/tahun
* 1972
Proyek Integrasi kilang Plaju dengan kilang Sungai Gerong
* 1982
Proyek Kilang Musi I (PKM I) dengan kapasitas 98 MBSD.
* 1983
Proyek pembangunan kilang TA/PTA dengan kapasitas 150.000 ton/tahun dan beroperasi sejak tahun 1986
* 1987
Proyek Energi Conservation Improvement (ECI)
* 1988
Proyek Usaha Peningkatan Effisiensi dan Produksi Kilang (UPEK)
* 1990
Debottlenecking kilang TA/PTA dengan kapasitas 225.000 ton/tahun
* 1994 Proyek Kilang Musi II(PKM II) yang meliputi :
o Revamping Kilang RFCCU
o Pembangunan New Polypropylene.
o Perubahan jaringan listrik 60 Hz menjadi 50 Hz di area S.Gerong
* 1996
Modifikasi Unit Redistiling I/II Plaju menjadi CDU

Read the full story